Ada dua model umat Islam dalam menyikapi keadaan, sebagaimana teladan dari Sayyid Hasan dan Sayyid Husein, yang dituturkan Gus Baha. Dua cucu Baginda Nabi Saw. ini menjadi simbol: kompromi demi kebaikan umat, dan berani mati demi kebenaran.
Yupz, Sayyidina Hasan
dan Sayyidina Husein merupakan keturunan Baginda Nabi Saw. lewat jalur Sayyidah
Fatimah ra. Kita tahu bahwa Sayyidina Ali bin Abi Thalib menikahi Sayyidah Fatimah
setahun setelah hijrah ke Madinah. Sayyidina Ali berusia 20 tahun, sedang Sayyidah
Fatimah berusia 15 tahun.
Nah, Sayyidina Hasan memilih jalur kompromi ketika
berhadapan dengan Muawiyah, supaya tak jatuh korban sia-sia. Sayyidina Hasan,
yang oleh sebagian umat Islam, didorong untuk menggantikan ayahnya menjadi
khalifah. Namun, hak beliau untuk menjadi khalifah itu diserahkan pada
Muawiyah, yang memang bernafsu untuk berkuasa usai melawan pemerintahan sah Sayyidina
Ali. Alhasil, pada era tersebut kepemimpinan Islam tunggal dipegang oleh
Muawiyah yang kemudian dikenal dengan Bani Umayyah, yang berpusat di Damaskus
Syiria.
Kepemimpinan Muawiyah berikut Yazid berbeda dengan tradisi Khulafaur
Rasyidin. Masa kepemimpinan empat sahabat utama Nabi Saw. itu tercatat sebagai
puncak kegemilangan Islam. Namun, begitu beralih kekuasaan Sayyidina Ali bin
Abi Thalib kepada Muawiyah, mulai tahun 661, merupakan peralihan bentuk
pemerintahan, dalam khazanah modern bisa dibilang demokrasi, berbasis kecakapan
memimpin menjadi sistem kekhalifahan monarki. Dan, peralihan sistem itu pun
melalui tragedi berdarah. Syahdan, Muawiyah memimpin kekuasaan yang entah tak
jelas mandat dari mana atau siapa.
Sayyidina Hasan berhitung, meski pemerintahan Muawiyah itu
buruk dan ilegal, jika dilawan akan sama artinya dengan pertumpahan darah
sesama umat. Oleh karenanya, beliau memilih berkompromi dengan Muawiyah.
Berbeda Sayyidina Husein. Beliau memilih untuk mengambil
haknya. Beliau berpendirian bahwa pemerintah zalim mesti dilawan. Beliau
berkeyakinan bahwa umat harus melakukan perubahan. Umat jangan sampai mendiamkan
kemungkaran. Kebenaran harus diomongkan terus. Dan Yazid, anak Muawiyah, tidak
terima hingga terjadilah tragedi di padang Karbala, serta terpenggal-lah kepala
Sayyid Husein oleh pasukan Yazid.
“Siapa melihat kezaliman dan tidak mengambil langkah, itu
pasti masuk neraka,” pidato Sayyidina Husein sebelum menemu ajal di Karbala.
“Lho penting, maksiat kita omongkan terus!” tutur Gus Baha
terkait dakwah yang beribrah kepada Sayyidina Husein. “Contoh begini: zina itu akan
terus dinilai jorok, itu berkat omongan terus-menerus bahwa anak zina disebut
anak jadah (haram). Atau pezina disebut ‘lonthe’. Bayangkan, seumpama istilah
lonthe itu dikamuflase menjadi ‘wanita harapan’, maka lambat laun tidak akan ada
penjorokan atas sesuatu yang jorok sebagai jorok. Nah, ke depan era cucu kita,
kemungkinan hukum berubah, karena penghalusan tersebut, yang akhirnya lupa
hakikat zina.”
Dan kini kita rasakan betul, penghalusan-penghalusan
istilah, yang seolah indah dan baik, tapi justru menyesatkan. Seperti
“mengakali” kita sebut “seni berdiplomasi”, “membujuk” diperhalus menjadi “seni
berpolitik”, dan seterusnya dan sebagainya.
Nah, wafatnya Sayyidina Husein merupakan simbol bahwa siapa
saja boleh berani mati demi kebenaran. Sayyidina Husein menentang kebijakan
kakaknya, Sayyidina Hasan, bahwa yang “haq” adalah “haq”, meski nyawa
taruhannya. Namun, Sayyidina Hasan melihat kompromi itu lebih baik ketimbang
prahara, lebih membawa maslahat bagi Islam ketimbang tragedi. Berkompromi
adalah pilihan demi menjaga persatuan umat.
“Mungkin Muawiyah yang salah, dan yang berhak itu saya.
Namun, karena saya ingin umat ini baik-baik saja, dan demi umat terhindar dari
pertumpahan yang berdarah-darah, maka hak khalifah saya serahkan kepada
Muawiyah.” Pidato Sayyidina Hasan.
Berkat pilihan beliau, tahun-tahun itu disebut tahun
persatuan. Sebab pemerintahan Sayyidina Hasan total dihapuskan, dilebur menjadi
satu dengan kekuasaan Muawiyah. Sekira tak bergabung, akan terbit kubu-kubuan.
Kubu Hasan bertempur dengan kubu Muawiyah. Dan, yang demikian sungguh tak
diinginkan oleh cucu nabi yang sedemikian lembut itu.
“Nah, yang diikuti oleh kiai-kiai Indonesia itu Sayyid
Hasan!” terang Gus Baha.
Dan memang demikian faktanya. Kita saksikan bahwa umumnya ulama
atau kiai banyak yang lahir dari rahim Muhammadiyah dan NU. Serta kita pun mafhum,
organisasi masa Islam yang terbukti menjaga persatuan umat adalah Muhammadiyah
dan NU. Keduanya menjadi arus utama pola keberislaman moderat, pilihan yang
dulu diambil oleh Sayyidina Hasan. Tidak ekstrem.
So, begitulah, dua
simbol kebenaran yang sama-sama dibutuhkan umat. Sayyidina Hasan memilih
kompromi demi kestabilan umat Islam. Sayyidina Husein memilih mati demi
tegaknya kebenaran. Kedua beliau itu menjadi wajah wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil ‘alamin, bahwa hidupku serta matiku hanyalah untuk Allah Tuhan
seluruh alam. Hidup dan mati demi Tuhan.
Demikian! []
Ungaran, 16/07/2026

0 Komentar