Orang yang Beriman (1)
Hai orang yang beriman! Janganlah kamu berkata (kepada Rasulullah) dengan kata-kata yang samar-samar, tetapi katakanlah dengan kata-kata yang terhormat dan dengarkanlah (dia). Bagi orang-orang kafir adalah siksa yang sungguh pedih. (Al-Baqarah [2]: 104)
Ini adalah seruan pertama di antara sekian seruan kepada orang-orang yang beriman. Dan Abdullah Yusuf Ali mengetengahkan bahwa kata yang tidak
disukai ialah ra’ina yang biasa dipakai oleh kaum Muslimin dengan arti
“Peliharakanlah dan jagakanlah kami”. Tetapi oleh musuh-musuh kaum Muslimin
dipakai berolok-olok dengan sedikit diputarbalikan sehingga memberi arti
penghinaan. Maka pakailah kata unzurna yang tidak lagi samar dengan arti
yang sama seperti yang dimaksud.
Secara umum pelajaran yang dapat kita ambil ialah kita harus
menjaga diri dari tipu muslihat yang sinis mengenai penggunaan kata-kata yang
kedengarannya di telinga memuji, tetapi sebenarnya mengandung ejekan tajam yang
tersembunyi.
Bukan saja harus sederhana dan sopan dalam tutur kata kita,
tetapi juga harus hormat menyimak kata-kata seorang guru lawan berbicara. Orang
tak berakal akan menggunakan kata-kata yang sia-sia atau akan memajukan
pertanyaan-pertanyaan tolol, dan jalan yang sudah lurus bisa berputar-putar
dalam pikiran mereka menjadi sesuatu yang lain.
Sementara Muhammad Asad menerjemahkan surah Al-Baqarah [2]:
104 ini menjadi, Wahai, kalian yang telah meraih iman! Janganlah
kalian berkata [kepada Nabi], “Dengarkanlah kami,” alih-alih
katakanlah, “Bersabarlah terhadap kami,” dan dengarkanlah [dia]
karena penderitaan yang pedih menanti orang-orang yang mengingkari kebenaran.
Teguran ini, menurut Muhammad Asad, yang pertama-tama
ditujukan kepada para Sahabat Nabi, memiliki suatu konotasi yang jauh melampaui
kondisi historis yang memunculkannya—suatu hal yang sering ditemukan dalam
Al-Quran.
Para Sahabat diseru agar berbicara kepada Nabi dengan rasa
hormat dan menempatkan keinginan pribadi serta harapan mereka di bawah
bimbingan agama yang diwahyukan melalui beliau: dan perintah ini tetap berlaku
bagi setiap orang beriman dan berlaku sepanjang masa.
Demikian penjelasan firman Allah yang diawali dengan Ya Ayyuhal-Ladzina Amanu yang pertama. []

0 Komentar