Gugusan Bintang (4)

Sampai di manakah puncak kekuasaan manusia? Nah, ayat-ayat berikut mengetengahkan sosok Fir’aun dan Tsamud, yang pongah akan sebuah kerajaan besar. Namun, akhirnya binasa lantaran menantang hukum Allah.

هَلۡ أَتَىٰكَ حَدِيثُ ٱلۡجُنُودِ --- فِرۡعَوۡنَ وَثَمُودَ

Apakah telah sampai kepadamu kisah pasukan-pasukan [yang bergelimang dosa], --- [pasukan] Fir’aun dan [pasukan suku] Tsamud? (al-Buruj [85]: 17-18)

Secara tersirat, yaitu “yang keduanya dihancurkan karena dosa-dosa mereka”. Kisah tentang Fir’aun dan pasukannya, dan pembinasaan mereka dengan cara ditenggelamkan, disebut berkali-kali dalam al-Qur’an; mengenai kisah kaum Tsamud bisa dilihat dalam surah al-A’raf [7]: 73 dst.

بَلِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فِي تَكۡذِيبٖ -- وَٱللَّهُ مِن وَرَآئِهِم مُّحِيطُۢ

Sungguhpun demikian, mereka yang bersikeras mengingkari kebenaran tetap kukuh dalam mendustakan kebenaran itu: --- padahal, sementara itu Allah meliputi mereka [dengan pengetahuan dan kekuasaan-Nya] tanpa mereka menyadari akan hal itu. (al-Buruj [85]: 19-20)

Lit., “dari belakang mereka”, suatu frasa idiomatis yang berarti suatu kejadian yang tidak dapat diketahui oleh orang-orang yang terkait erat dengannya.

بَلۡ هُوَ قُرۡءَانٞ مَّجِيدٞ --- فِي لَوۡحٖ مَّحۡفُوظِۢ

Tidak, tetapi [kitab Ilahi yang mereka tolak] ini adalah bacaan yang sangat mulia, --- [yang tertulis] di dalam suatu lembaran yang tidak akan pernah rusak ataupun sirna. (al-Buruj [85]: 21-22)

Lit., “pada lembaran yang terjaga dengan baik (lauh mahfuzh)”—suatu penggambaran mengenai al-Qur’an yang hanya dapat ditemukan dalam ayat ini. Meskipun sebagian mufasir mengambil ungkapan tersebut secara harfiah dan memahaminya sebagai “lembaran yang terdapat di langit” yang padanya al-Qur’an dituliskan sejak zaman azali.

Bagi banyak mufasir lainnya, ungkapan tersebut senantiasa mengandung makna metafora: yakni, mengacu pada kualitas kitab Ilahi ini yang tidak akan pernah rusak ataupun sirna. Penafsiran ini dinyatakan, secara tegas, dapat dibenarkan, misalnya oleh Al-Thabari, Al-Baghawi, Al-Razi, atau Ibnu Katsir, yang semuanya sepakat bahwa ungkapan “pada lembaran yang terjaga dengan baik” berkaitan dengan janji Allah bahwa al-Qur’an tidak akan pernah rusak atau hilang, dan akan selalu terbebas dari penambahan, pengurangan, dan perubahan teks secara sewenang-wenang.

Demikian terjemahan dan penjelas oleh Muhammad Asad. []

Baca juga: Gugusan Bintang (3)

Posting Komentar

0 Komentar