“Kemungkinan besar,” ungkap Muhammad Asad, “surah al-A’la [87]—Yang Mahatinggi—ini merupakan surah kedelapan dalam urutan kronologis pewahyuan. Dan kata kunci yang biasa menjadi sebutan untuk surah ini terdapat pada ayat pertama.”
سَبِّحِ ٱسۡمَ رَبِّكَ ٱلۡأَعۡلَى, Bertasbihlah memuji
nama Pemeliharamu yang kemuliaan-Nya tidak terhingga: [kemuliaan] Yang
Mahatinggi, (al-A’la [87]: 1)
ٱلَّذِي خَلَقَ فَسَوَّىٰ, yang menciptakan [segala
sesuatu], lalu membentuknya sesuai dengan apa yang telah ditentukan
baginya, (al-A’la [87]: 2)
Yakni, Dia menganugerahi segala sesuatu dengan keselarasan
internal dan dengan sifat-sifat yang konsisten dengan fungsi-fungsi yang
dikehendaki untuk dijalankan oleh sesuatu itu. Dengan demikian, Dia menyesuaikannya
secara apriori menurut urgensi keberadaan sesuatu itu.
وَٱلَّذِي قَدَّرَ فَهَدَىٰ, dan yang menetapkan sifat
dasar [dari semua yang ada], lalu memberinya petunjuk [menuju
kesempurnaannya], (al-A’la [87]: 3)
Bisa kita lihat pula, surah al-Furqan [25]: 2, وَخَلَقَ كُلَّ
شَيۡءٖ فَقَدَّرَهُۥ تَقۡدِيرٗا … “dan Dia-lah yang menciptakan segala
sesuatu dan menetapkan sifat dasarnya sesuai dengan rancangan[-Nya
sendiri]”. Yakni, sesuai dengan fungsi yang ditetapkan oleh-Nya terhadap
setiap benda atau fenomena tertentu.
Juga dalam surah Thaha [20]: 50, قَالَ رَبُّنَا ٱلَّذِيٓ أَعۡطَىٰ كُلَّ شَيۡءٍ
خَلۡقَهُۥ ثُمَّ هَدَىٰ, “[Musa] menjawab, ‘Pemelihara kami adalah Dia
yang memberikan sifat dasar dan bentuk yang sejati kepada segala sesuatu [yang
ada], kemudian memberinya petunjuk [menuju kesempurnaannya]’.”
Bahwa aslinya, kalimat ini berbentuk lampau, yakni “telah
memberikan” dan “telah memberinya petunjuk”. Akan tetapi, karena kalimat ini
jelas berhubungan dengan terus-menerusnya proses penciptaan yang dilakukan
Allah, ia terlepas dari konsep waktu, dan menunjukkan—sebagaimana dalam banyak
tempat yang lain di dalam al-Qur’an—kekinian yang tiada akhir.
Dan, istilah khalq dalam konteks ini menunjukkan
bukan hanya sifat batiniah suatu benda atau makhluk ciptaan, melainkan juga
bentuk lahiriah tempat sifat ini mewujudkan dirinya. Itulah alasan yang
mendasari diterjemahkannya khalqahu menjadi “sifat dan bentuknya yang
sebenarnya”.
وَٱلَّذِيٓ أَخۡرَجَ ٱلۡمَرۡعَىٰ --- فَجَعَلَهُۥ غُثَآءً أَحۡوَىٰ,
dan yang menumbuhkan rerumputan, --- lalu menyebabkannya hancur
menjadi jerami yang berwarna cokelat kemerah-merahan! (al-A’la [87]: 4-5)
Yakni, secara kiasan, “yang menciptakan kehidupan dan
kematian”.
Demikian! []
Baca juga: Menggulung (2)

0 Komentar