Al-Baqarah [2]: 72-73
وَإِذۡ قَتَلۡتُمۡ نَفۡسٗا فَٱدَّٰرَٰٔتُمۡ فِيهَاۖ وَٱللَّهُ مُخۡرِجٞ
مَّا كُنتُمۡ تَكۡتُمُونَ
[Wahai, Bani Israil,] karena kalian telah membunuh
seorang manusia, kemudian saling melempar kesalahan atas [kejahatan]
itu—sekalipun Allah hendak menyingkapkan apa yang hendak kalian sembunyikan
فَقُلۡنَا ٱضۡرِبُوهُ بِبَعۡضِهَاۚ كَذَٰلِكَ يُحۡيِ ٱللَّهُ ٱلۡمَوۡتَىٰ
وَيُرِيكُمۡ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ
Kami pun berfirman, “Tetapkanlah [prinsip] ini pada sebagian dari [kasus-kasus pembunuhan yang tak terungkap] itu: beginilah Allah menyelamatkan kehdupan (manusia) dari kematian dan memperlihatkan kepada kalian kehendak-Nya, agar kalian dapat [belajar] menggunakan akal kalian.”
Penggunaan bentuk jamak “kalian” menunjukkan prinsip
tanggung jawab kolektif dan komunal yang ditentukan Hukum Musa dalam kasus
pembunuhan oleh satu atau banyak orang yang pelakunya tak diketahui. Tindakan
Allahmenyingkapkan pelakunya jelas mengacu pada peristiwa di Hari Pengadilan.
Ungkapan ٱضۡرِبُوهُ بِبَعۡضِهَاۚ (idhribuhu bi-ba’dhiha)
secara harfiah dapat diterjemahkan menjadi “pukullah dia [atau ‘itu’] dengan
sebagian dari dia [atau ‘itu’]” {hu: dia/itu maskulin; ha:
dia/itu feminin}—dan kemungkinan ini telah memunculkan pernyataan fantastis
dari banyak mufasir, bahwa Bani Israil diperintahkan agar memukul mayat korban
pembunuhan dengan sebagian daging sapi yang disembelih, kemudian secara
menakjubkan mayat itu hidup kembali dan menunjuk pembunuhnya.
Baik Al-Quran, hadis, maupun Bibel tidak memberikan sedikit
pun dukungan terhadap penjelasan yang sangat imajinatif ini dan, karena itu,
harus ditolak—padahal, kata ganti hu dalam idhribuhu berjenis
maskulin (mudzakkar), sementara nomina nafs (yang diterjemahkan
di sini dengan “manusia”) berjenis feminin (mu’annas).
Karenanya, kata perintah idhribuhu tidak mungkin
mengacu pada nafs. Di sisi lain, verba dharaba (lit., “dia telah
memukul”) sering digunakan dalam pengertian kiasan atau metonimia, misalnya
dalam ungkapan dharaba fi al-ardh (“dia berjalan di muka bumi”), dharaba
al-syai’ bi-syai’ (“dia mencampurkan sesuatu dengan sesuatu yang lain”),
atau dharaba al-matsal (“dia membuat kiasan” atau “mengemukakan suatu
perumpamaan”, atau “memberikan suatu ilustrasi”), atau ‘ala dharb wahid (“sama-sama
diterapkan” atau “dengan cara yang sama”), dhuribat ‘alaihim al-dzillah
(“kehinaan ditimpakan pada mereka”), dan sebagainya.
Dengan mempertimbangkan semua ini, Muhammad Asad berpendapat
bahwa kata perintah idhribuhu yang terdapat pada ayat 73 harus
diterjemahkan menjadi “terapkanlah ia” (apply it) atau “ini”(yang
merujuk, dalam konteks ini, pada prinsip tanggung jawab komunal).
Adapun kata ganti feminin ha pada ba’dhiha
(“sebagian darinya”), pasti merujuk pada nomina feminin terdekat yang
disebutkan sebelumnya—yaitu: nafs yang telah dibunuh, atau tindakan
pembunuhan itu sendiri yang masyarakat berselisih mengenainya (fiha).
Jadi, frasa idhribuhu bi-ba’dhiha dapat dengan tepat
diterjemahkan menjadi “terapkanlah [prinsip] ini pada sebagian dari
[kasus-kasus pembunuhan yang tak terungkap] itu”: sebab, tentu saja, prinsip
tanggung jawab komunal atas pembunuhan oleh satu atau beberapa orang yang tidak
diketahui hanya dapat diterapkan pada sebagian, dan bukan pada semua kasus
seperti itu.
Lit., “Allah memberi kehidupan kepada yang mati dan
memperlihatkan pesan-pesan-Nya kepada kalian” yakni, Dia menunjukkan
kehendak-Nya melalui pesan atau perintah seperti itu). Dan, ungkapan kiasan
“Dia memberi kehidupan kepada yang mati” berarti penyelamatan jiwa, serta
senada dengan yang terdapat dalam surah Al-Ma’idah [5]: 32.
Dalam konteks ini, ungkapan tersebut mengacu pada pencegahan
terhadap pertumpahan darah dan pembunuhan orang yang tidak berdosa, baik
melalui tindakan balas dendam individual maupun sebagai akibat dari proses
hukum yang salah karena didasarkan pada prasangka belaka dan bukti sementara
yang mungkin menyesatkan.
مِنۡ أَجۡلِ ذَٰلِكَ كَتَبۡنَا عَلَىٰ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ أَنَّهُۥ
مَن قَتَلَ نَفۡسَۢا بِغَيۡرِ نَفۡسٍ أَوۡ فَسَادٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ
ٱلنَّاسَ جَمِيعٗا وَمَنۡ أَحۡيَاهَا فَكَأَنَّمَآ أَحۡيَا ٱلنَّاسَ جَمِيعٗاۚ وَلَقَدۡ
جَآءَتۡهُمۡ رُسُلُنَا بِٱلۡبَيِّنَٰتِ ثُمَّ إِنَّ كَثِيرٗا مِّنۡهُم بَعۡدَ ذَٰلِكَ
فِي ٱلۡأَرۡضِ لَمُسۡرِفُونَ
Karena itu, Kami tetapkan bagi Bani Israil bahwa siapa
saja yang membunuh seorang manusia—kecuali yang dilakukan [sebagai hukuman]
atas pembunuhan atau atas penebaran kerusakan di muka bumi—seolah-olah dia telah
membunuh manusia seluruhnya; sedangkan, siapa saja yang menyelamatkan kehidupan
(seorang manusia), seolah-olah dia telah menyelamatkan kehidupan manusia
seluruhnya. (Al-Ma’idah [5]: 32)
Kebenaran moral inilah yang sedianya dipegang teguh oleh
para peneguh Kitab Tuhan, yakni selamatkan kehidupan, dan perumusannya yang
ringkas menjelaskan dengan baik mengapa kisah Qabil dan Habil disebutkan dalam
konteks ini. Ungkapan “Kami tetapkan bagi Bani Israil” tentu saja tidak
mengurangi keabsahan universal dari pesan moral ini: hal itu hanya
merujuk pada penetapannya untuk pertama kali {dalam sejarah}.
Demikian! []
Baca juga: Usah Memperluas

0 Komentar