Kecenderungan Setani

Al-Baqarah [2]: 12

Oh, sungguh, mereka itulah orang-orang yang menyebarkan kerusakan—tetapi mereka tidak memahaminya!

Tampaknya ini merupakan sindiran bagi orang-orang yang menentang segala bentuk “campur tangan” pertimbangan keagamaan dalam urusan praktis, sehingga—sering tanpa sadar, karena menganggap bahwa mereka “tidak lain hanyalah mengadakan perbaikan”—turut berperan menciptakan kekacauan moral dan sosial yang disinggung dalam ayat berikutnya.

Dan, apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang telah meraih iman, mereka menyatakan, “Kami beriman [seperti kalian beriman]”; tetapi Ketika mereka sendirian bersama dorongan-dorongan jahat mereka saja, mereka berkata, “Sungguh, kami bersama kalian, kami hanyalah berolok-olok!” (Al-Baqarah [2]: 14).

Istilah “setan-setan mereka” (syayathin, jamak dari syaithan) pada ayat 14, menurut bahasa Arab klasik, istilah itu sering menunjuk pada orang-orang “yang, karena terus-menerus melakukan kejahatan (tamarrud), telah menjadi seperti setan” (Al-Zamakhsyari): sebuah penafsiran atas ayat tersebut yang disepakati oleh banyak mufasir.

Namun, istilah syaithan—yang berasal dari verba syathana, yang berarti “dia telah [atau ‘menjadi’] jauh [dari semua kebaikan dan kebenaran]”—sering digunakan dalam Al-Quran untuk menggambarkan kecenderungan “setani” (yakni, sifat yang sangat jahat) yang bercokol dalam jiwa manusia, dan terutama segala dorongan batin yang berlawanan dengan kebenaran dan moralitas.

Demikian! []

Baca juga: Dusta

Posting Komentar

0 Komentar