Al-Baqarah [2]: 20
Halilintar itu nyaris saja melenyapkan penglihatan mereka; setiap kali halilintar itu menyinari mereka, mereka berjalan menuju sinar itu, dan setiap kali kegelapan menimpa mereka, mereka berhenti. Dan jika Allah menghendaki, Dia benar-benar dapat melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka; sebab, sungguh Allah berkuasa menetapkan apa saja.
Implikasinya yang jelas adalah: “tetapi Dia tidak menghendaki ini”—yakni, Dia tidak menutup kemungkinan bahwa “orang-orang yang telah menukar petunjuk dengan kesesatan” itu suatu saat dapat memahami kebenaran dan memperbaiki jalan hidupnya.
Ungkapan “pendengaran dan penglihatan mereka” jelas merupakan suatu metonimia yang menunjukkan kemampuan instingtif manusia dalam membedakan antara yang baik dan yang buruk, dan juga menunjukkan tanggung jawab moralnya.
Adapun perumpamaan “orang-orang yang menyulut api”, merupakan suatu kiasan terhadap sebagian orang yang hanya memercayai “pendekatan ilmiah” sebagai cara untuk menerangkan dan menjelaskan seluruh aspek yang tak diketahui dalam kehidupan dan agama, sehingga mereka dengan angkuh menolak mengakui bahwa apa pun dapat berada di luar jangkauan akal manusia.
“Kesombongan yang melampaui batas” ini, demikian Al-Quran mengistilahkannya, tak pelak akan menimpakan kepada para pelakunya—dan kepada masyarakat yang didominasi oleh orang-orang seperti itu—halilintar kekecewaan yang “nyaris saja melenyapkan penglihatan mereka”, yakni semakin memperlemah persepsi moral mereka dan memperdalam “ketakutan mereka terhadap kematian”.
Demikian. []
Baca juga: kecenderungan setani

0 Komentar