Al-Baqarah [2]: 36
Akan tetapi, setan menyebabkan mereka berdua tergelincir di dalamnya sehingga membuat mereka kehilangan kedudukan mereka yang semula. Lalu, Kami berfirman, "Turunlah kalian, [dan selanjutnya jadilah] musuh satu sama lain; dan di bumi, kalian akan memiliki tempat tinggal dan penghidupan untuk sementara!”
“Setan” di sini ialah kekuatan jahat, dengan arti dasar pembangkangan atau permusuhan. Juga “tergelincir” dari Taman yang mengandung arti jahat itu menggoda manusia berangsur-angsur turun dari tingkat yang tinggi ke tingkat yang lebih rendah.
Keputusan Tuhan "turunlah kalian" ini merupakan akibat tindakan manusia. Dan Adam merupakan contoh semua umat manusia dan semua mereka, laki-laki dan perempuan bersama-sama dalam masalah kehidupan rohani.
Persinggahan manusia dalam keadaan yang lebih rendah, yang di satu bagian ia adalah hewan di bumi ini sampai waktu tertentu. Tetapi juga ia harus memenuhi segala kewajibannya yang juga lebih rendah, sebab kewajiban itu merupakan satu bagian yang lain lagi dalam arti latihan rohani. (Abdullah Yusuf Ali).
“Mengeluarkan mereka dari tempat mereka selama ini berada”: yakni, dengan membujuk mereka untuk memakan buah dari pohon terlarang.
Lagi kemudian kalimat “turunlah kalian…”, suatu indikasi lebih lanjut bahwa nilai moral kisah tersebut berkenaan dengan umat manusia secara keseluruhan. Bahwa kata ganti “kalian berdua” berubah menjadi bentuk jamak (kalian [semua kamu]), memperjelas sejarah Adam dan Hawa, pada kenyataannya, adalah sebuah alegori dari takdir manusia.
Dalam keadaan tanpa dosanya yang terdahulu, manusia tidak sadar akan kejahatan dan, oleh karenanya, tidak menyadari keharusan untuk senantiasa membuat pilihan di antara berbagai kemungkinan tindakan dan tindakan laku: dengan kata lain, dia hidup hanya dengan menggunakan instingnya seperti binatang lainnya.
Bagaimanapun, karena keadaan tidak berdosa ini hanya merupakan suatu kondisi dari keberadaannya, dan bukan merupakan sebuah kebajikan, hal itu menjadikan kehidupannya bersifat statis sehingga menghindarkannya dari perkembangan moral dan intelektual.
Pertumbuhan kesadaran ini—yang disimbolkan dengan pembangkangan yang disengaja terhadap perintah Tuhan—telah mengubah semua itu. Kesadaran ini mengubahnya dari makhluk yang hanya mengandalkan insting menjadi entitas manusia yang utuh sebagaimana yang kita kenal—manusia yang mampu membedakan antara yang benar dan yang salah, dan kemudian memilih jalan hidupnya.
Dalam pengertian yang lebih dalam, alegori tentang Kejatuhan ini bukanlah menggambarkan sebuah kejadian pada masa lalu, melainkan lebih merupakan penjelasan tentang tingkatan baru dari perkembangan manusia: yakni, terbukanya gerbang menuju pertimbangan moral.
Dan dengan melarang manusia “mendekati pohon ini” [pada ayat sebelumnya, Al-Baqarah: 35], Allah memungkinkan manusia untuk melakukan perbuatan salah—dan, karena itu, juga untuk melakukan perbuatan benar: dengan demikian, manusia dianugerahi kebebasan untuk memilih secara moral, hal yang membedakannya dari seluruh makhluk lainnya.
Demikian. []
.png)
0 Komentar