Memuja Bayangan

HARI-HARI ini kita hidup di tengah tradisi serba terbuka, yang mendorong serba ingin menonjol, serba terkenal.

Ada ungkapan hikmah, “Tanamlah dirimu di bumi ketidakterkenalan.” Maka, nyata berseberangan, bukan?

Arus media telah mengandaikan semua berlomba menampakkan diri. Berkejaran untuk menjadi yang terkenal. Sehingga, akan tampak aneh bin belagu, bermedia sosial kok menampik kepopuleran.

Namun, Ibnu Athaillah, syekh dari Iskandariah, Mesir, jauh-jauh hari mewanti para penempuh makrifat supaya menjauhi popularitas. Misal telanjur terkenal, pun harus tetap berendah hati. Menjaga jarak dari kemasyhuran. Intinya, untuk meraih kebaikan mesti ditempuh dengan cara mengubur diri.

Lagian, kebiasaan memulai segala sesuatu di atas pentas ketenaran, yang lazim diperoleh justru kemubaziran. Banyak dai atau ustadz, yang akhirnya bertumbangan karena membangun diri bermodal tepuk tangan atau banyak follower

Sejarah mencatat, yang gampang mencuat ke ketinggian tangga popularitas, gampang pula surut dari peredaran. Ada juru dakwah yang mendadak terkenal, tapi tak butuh waktu lama ia pun tenggelam, bahkan tervonis busuk. Ada motivator kondang, kata-katanya sedemikian menyihir dan melenakan, tapi lagi-lagi gampang surut, bahkan kini serasa tak satu pun orang bersedia mendengar petuahnya. Ya, publik berasa kejam, akhirnya. Tapi bagaimana lagi, memang demikian hukum media sosial, hukum digital. Naik-turun apa dan siapa sedemikian cepat, dan kerap tak terduga.

Maka, ikhlas karena Allah itu benar-benar sulit. Betapa tidak, karena kita harus menyingkirkan keinginan atau ambisi diri. Bahwa tiada yang berhak menjadi tujuan segala sesuatu selain Allah. Bahwa arah ibadah itu makrifatullah, kenal Allah. Ikhlas adalah menafikan ke-aku-an, saat yang sama berserah diri kepada-Nya, bahwa kita butuh Dia.

Namun, umumnya kita baru bisa mengalami makrifat itu tatkala sakit. Kita akan benar-benar berasa butuh Allah ketika tertimpa musibah. Itulah kenapa orang-orang dulu, justru merespon sakit, menanggapi keadaan susah, sebagai hari raya. Karena yang demikian mengantar manusia pada momen butuh Tuhan.

Padahal memang, kalau dipikir-pikir, tetaplah bahwa yang paling aman dan nyaman adalah menjadi hamba Allah, bukan hamba keterkenalan, bukan hamba ketenaran. Menjadi hamba Allah berarti sadar-sesadarnya bahwa la hawla wa la quwwata Illa Billah, tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah

Lantas? Ya, leluhur dulu, para ningrat jiwa telah mewejang supaya kita menjalani uzlah, mengalokasikan waktu dan suasana untuk merenung atau menafakuri ke-Mahabesar-an Allah. Untuk menyaksikan keagungan-Nya. Prinsipnya, lebih sebagai upaya menjaga akal dan rasa untuk ingat kepada Allah. 

Lebih spesifik memperbincangkan konsep ketuhanan, ada sepuluh perkara yang bisa jadi pegangan kita. Pertama, Allah adalah yang menampakkan segala sesuatu. Kedua, Dia yang tampak pada setiap sesuatu. Ketiga, Dia yang tampak dalam segala sesuatu. Keempat, Dia yang tampak bagi segala sesuatu. Kelima, Dia yang tampak sebelum adanya segala sesuatu. Keenam, Dia yang lebih tampak jelas daripada segala sesuatu. Ketujuh, Dia Yang Maha Esa tidak ada yang menyamai-Nya segala sesuatu. Kedelapan, Dia lebih dekat dengan kita dibandingkan dengan segala sesuatu. Kesembilan, tidak ada Dia, maka tidak akan ada segala sesuatu. Dan kesepuluh, Dia sang pemilik hakiki dan Yang Maha Dahulu. 

Dengan begitu, berasa muskil jika ada atau segala sesuatu ini menjadi penghalang kita untuk menyadari adanya Allah. Sebab segala sesuatu itu adalah makhluk Allah. Dan keberadaan semua makhluk merupakan bukti adanya Allah. Jadi, bagaimana mungkin Allah bisa terhalang oleh bukti adanya Dia? Jelas-jelas Allah-lah penyebab bekerjanya segala sesuatu.

Sehingga tak aneh sekiranya Baginda Nabi Saw. kerap bergumam “inna lillahi wa inna ilaihi rajiun” tatkala lampu senthir mati. Beliau sadar betul bahwa Allah sang penyebab segala. Dan, beliau juga tak sampai hati mencela makanan, sebab mencelanya sama saja menghina Allah.

Betapa Allah yang tampak bagi segala sesuatu, sebagaimana diisyaratkan “tidak ada sesuatu pun selain bertasbih dengan memuji-Nya.” Tak pelak, para penempuh dulu tidak berani sembarangan menebang pohon, tidak berani memotong ranting, saking tahu bahwa pepohonan itu pun bertasbih. Orang-orang dahulu sadar betul bahwa Allah tampak di balik pepohonan. Dia tampil di balik yang ada. Tapi bandingkan hari-hari ini, hutan dibabat, gunung-gunung ditanami vila, sehingga kita menuai banjir. 

Alhasil, betapa rugi jika hanya terbatas mengejar keterkenalan, bukan kedalaman nilai, bukan penghayatan diri. Sebab, apa pun argumennya, keterkenalan itu tetaplah permukaan, tetap dangkal yang hanya tampak mengemuka di mata orang lain, yang acap bukan sesungguhnya kita.

Hal ini memang tidak gampang, karena di depan kita tergelar arena yang sebegitu mudah meraup pundi-pundi dan kemasyhuran. Yang memikat tanpa protes, tanpa verifikasi supaya kita bertindak konyol. Padahal, sekali lagi Baginda Rasul, 14-an abad silam mengetengahkan bahwa yang hakiki hanyalah Allah, yang asli cuma Allah, yang sejati adalah Allah, selain Dia merupakan bayangan semata. Dan mustahil bayangan itu ada dengan sendirinya. Maka, bagaimana logisnya kita bisa kepincut pada bayangan? Tidak bergegas mendongak menyaksikan Dia yang Maha Pengatur. Malah memuja bayangan. 

Ah, entahlah! []

Ungaran, 29 November 2025

Baca juga: Menunda Kiamat

Posting Komentar

0 Komentar