:: Muhammad Zuhri
Selalu berubah adalah sifat alam yang telah kita maklumi bersama. Tetapi berubah menjadi lebih buruk kualitasnya, masih ditambah dengan gelap dan tidak tahu bagaimana caranya keluar dari situasi tersebut adalah sebuah tragedi kehidupan. Mirip dengan situasi Nabi Yunus a.s. yang tersesat ke dalam perut ikan.
Bila situasi seperti itu melibat diri seseorang yang lemah
mental, ia akan mudah berputusasa dan berusaha menghindari masalahnya dengan
berbagai cara yang negatif. Misalnya, bermabuk-mabuk dengan minuman keras atau
obat-obatan, bermain perempuan dan bahkan bisa nekat melakukan bunuh diri. Lain
halnya bila situasi tersebut, melanda diri seorang yang enerjik, ia segera
bereaksi dengan memaki-maki keadaan, mengutuk setiap orang atau menodongnya,
dan melemparkan semua pengetahuannya tentang nilai ke tong sampah. Seolah
dirinya tidak punya andil di dalam menciptakan keadaan. Maka situasi kehidupan
pun semakin bertambah gelap, semrawut dan tak terkendali.
Nabi Yunus a.s. mengatasi masalahnya dengan bertasbih dan
mengakui kezaliman dirinya, karena subyeknya perorangan. Bila yang terlibat
situasi tersebut, suatu bangsa besar yang heterogen kepercayan dan tradisinya,
serta beragam pula wawasannya tentang kenyataan, solusinya tidak semudah
melakukan tasbih akbar atau sejenisnya. Karena permasalahannya tidak sekadar
permasalahan teknis, melainkan lebih esensial dari itu.
Tragedi Budaya
Sebuah tragedi kehidupan praktis akan diikuti oleh tragedi
budaya. Karena budaya adalah sebuah perspektif nilai berdasarkan nilai yang
dianggap prima. Nilai yang dianggap prima telah menjadi kabur, bahkan telah
lenyap dari kesadaran umat yang sedang mengalami chaos. Maka budayanya akan kehilangan perspektif nilai yang
menawarkan kemungkinan yang diharapkan. Atau dengan kata lain telah kehilangan
bentuk dan kiblatnya yang nyata. Hasilnya menjadi sejadi-jadinya.
Bagi golongan potensial yang sedang kehilangan indra
kemanusiaannya akan mendapatkan peluang yang seluas-luasnya untuk merealisir
egoismenya dengan membeli kesempatan dengan fasilitas yang dikuasai. Sedang
golongan yang lain akan terpuruk ke dalam keputusasaan, ilusi dan
khayalan.
Refleksi budayanya dalam bentuk kesenian akan berwujud
film-film tentang hantu, tuyul, vampir, dan selebihnya berupa atraksi dagelan
untuk melupakan setumpuk masalah yang tak terjawab, sekaligus sebagai pelarian
dari kemandulan dirinya dalam berbudaya. Masih ditambah dengan menyajikan
potret-potret tentang kegagalan berbudaya yang berupa rekaman tentang
penangkapan penyelundup, koruptor, penodongan, pemerkosaan dan pelanggaran
nilai-nilai kemanusiaan yang lain sebagai menu harian setiap keluarga,
menggantikan kesibukan rutin berumah tangga, menggarap pe-er bagi para siswa,
baca buku untuk menambah wawasan hidupnya, dan melakukan ibadah sunnah atau
zikir untuk memotivasi diri dalam menghadapi hari esok yang penuh tantangan.
Hal-hal yang semestinya hanya penting buat sebagian fungsionalis untuk menambah
wawasan profesinya dijajakan secara terbuka di depan para remaja yang belum
berbentuk dan belum memiliki filter yang memadai.
Penampilan visual tentang sisi gelap kehidupan yang penuh
dengan penyimpangan, pembunuhan sadis dan berbagai macam imajinasi tentang hantu
secara terus-menerus di depan generasi muda yang kita harapkan bisa menjadi
pelaku budaya yang baik, akan berdampak menyesatkan proses identifikasi diri
mereka. Karena masukan melewati mata pada jiwa seseorang (pengetahuan visual)
jauh lebih kuat pengaruhnya dibanding dengan masukan lewat telinga (pengetahuan
verbal).
Maka tidak mengherankan jika suapan-suapan nilai dari
kitab-kitab suci, nasehat orang-tua, guru ngaji dan dosen-dosen beserta
bibliotika sekolahnya, tidak mendapatkan respon yang positif dari kebanyakan
generasi muda, karena dikonter oleh pengetahuan visual yang mereka saksikan
sendiri di dalam perjalanannya. Praktis mereka akan menjadi makhluk baru yang
aneh (di luar dugaan) dan tanpa kemungkinan yang diharapkan, karena semakin
langkanya keteladanan yang bisa merangsang mereka untuk berkembang. Dan praktis
pula akan gulung tikarnya agama-agama dari muka bumi pada suatu saat. Bukankan
semua agama hanya menawarkan kemungkinan hidup yang lebih baik, lewat tradisi
(sunnah) kepada pemeluknya? Apakah dengan demikian kita bisa menjadi yakin akan
keberhasilan Panca Sila sebagai dasar dan
falsafah negara?
Tragedi Kesadaran
Diri
Tragedi kehidupan tidak mungkin terjadi dalam kenyataan
sebelum setiap individu masyarakatnya mengalami “tragedi kesadaran diri”
terlebih dahulu. Tragedi kesadaran diri merupakan momen lahirnya Iblis dan
Setan dalam diri seseorang. Maaf, jika saya terpaksa menggunakan simbol-simbol
lama untuk menjelaskan hal ini, karena belum didapatkan simbol baru yang
memadai dan dipahami semua orang (populer).
Bila kesadaran diri seseorang mengalami tragedi, maka semua
ungkapan dirinya sejak dari cara berpikir, berbicara dan bertindaknya akan
merosot akurasi dan efektifitasnya yang berakibat hilangnya kesempatan untuk
melahirkan nilai-nilai yang diharapkan (abudaya).
Momen Lahirnya Iblis
Kesadaran adalah sebuah nyala terang di dalam batin manusia.
Ia mengalami proses tumbuh seiring dengan berkembangnya kehidupan. Ketika “terang”
mencapai puncaknya, individu yang bersangkutan merasa lebih unggul dari yang
lain. Saat itulah lahirnya “rasa super” (Iblis) di dalam dirinya. Segala yang
datang darinya dianggap lebih akurat dan layak diterima oleh semua pihak, tanpa
harus diuji terlebih dahulu efektifitasnya bagi kehidupan. Sejak itu proses
ekspansi dimulai dengan memaksakan pendapat (manipulasi informasi) dan
selanjutnya mendesakkan hajad (menawarkan program dan sarana pelaksanaannya)
kepada sasarannya. Tawarannya dengan serta-merta akan mendapatkan respon dari
pihak yang tensi keterdesakannya lumayan tinggi. Maka proses ekspansi pun
terlaksana dengan mudah.
Secara otomatis refleksi budaya mereka dalam bentuk kesenian
akan mendukung melicinkan proses ekspansinya di wilayah global. Film-film yang
bersifat show of force, eksplorasi,
dan peperangan segera meluncur ke segenap pelosok bumi menambah kekaguman
penonton akan superioritas mereka di bidang teknologi dan senjata pemusnah,
sekaligus mengaburkan image mereka
tentang kebutuhan hidup dan pengembangannya.
Momen Lahirnya Setan
Selain itu masih terdapat tragedi lain yang lebih bersifat
eksistensial. Yaitu tragedi kebersamaan hidup dan kelangkaan sumberdaya alam.
Hidup bersama orang lain memang asyik, karena dapat bergotong-royong dan
berbagi rasa dalam suka dan duka. Tetapi setelah menyadari perkembangan jumlah
manusia semakin bludak dan tidak terkejar oleh perkembangan sarana kehidupan,
timbullah kecemasan manusia akan ditinggalkan kesejahteraan. Saat itulah
lahirnya “nafsu keserakahan” (Setan) di dalam dirinya dan menawarkan solusi.
Setiap individu manusia dipacu untuk segera berangkat memperebutkan sarana kehidupan (SDA) demi
kelestarian dan kesejahteraan diri mau pun lingkungan masing-masing, meskipun
dengan demikian akan membuat mereka yang lemah menjadi kehilangan kesempatan
dan semakin sekarat.
Refleksi budaya mereka dalam bentuk kesenian akan merangsang
selera penonton untuk hidup berfoya-foya, menghamburkan sarana, waktu dan energi
sekadar untuk mengungkapkan segala sesuatu yang kurang bernilai. Kontes “segala-ratu”
dalam segenap ekspresi aestetika (sejak bentuk tubuh, gerak, suara hingga
penampilannya) pun bermunculan di panggung-panggung terbuka (layar perak)
dengan para pesertanya yang telah lama dipersiapkan dengan berbagai sarana dan
prasarana yang mahal dari semua lingkung umat, tak terkecuali dari lingkungan
umat beragama (nonormas). Demi “dunia milik” dilecehkannya “dunia diri”.
Terjadinya kedua tragedi yang melatarbelakangi chaos-nya kehidupan umat manusia
menandakan bahwa umat manusia telah mulai tergelitik lagi untuk menundukkan ruang
(kerajaan yang tak rusak) dan waktu
(pohon kholdi), dengan cara yang memungkinkan dalam zamannya.
Paradigma Proses
Kreatif
Meskipun berulang kali mengalami kegagalan dalam memerankan
diri, kita mesti tetap berusaha dan terus berusaha sampai menemukan sebuah
paradigma proses kreatif yang masuk akal dan bebas dari kepentingan sepihak,
supaya dapat diterima oleh semua golongan umat. Dengan demikian dapat
memancangkan harapan di dalam mencari kemungkinan yang lebih baik, yaitu
situasi global yang dijaga bersama dan untuk kepentingan bersama.
Telah kita maklumi bersama bahwa setiap individu manusia
adalah sebuah otoritas (kekuasaan) yang memiliki daya mampu (potensi; qadar)
yang terbatas. Ia dilepas dari sangkarnya (Asal) untuk memerankan
menejerial-Nya di muka bumi. Tentu saja sebatas memampuannya masing-masing.
Oleh karena itu kedudukan manusia di tengah-tengah kehidupan ini adalah sebagai
“sebab”. Maka ia yang mesti memikul tanggung jawab terhadap baik-buruknya
kehidupan dan sejahtera tidaknya masyarakat.
Di dalam mengungkapkan potensinya untuk mencapai “tujuan”,
ia dihadapkan pada banyak hal yang harus dipersiapkan terlebih dahulu.
· Ia butuh memiliki sarana (fasilitas
alam\teknologi) yang memadai sebagai “alat” untuk mewujudkan yang dikehendaki.
Yaitu sesuatu yang dengannya memungkinkan tercapainya tujuan.
· Ia dituntut untuk memiliki pengetahuan situasi
(sadar lingkungan) dan bermoral (akomodatif), supaya hasil karyanya direspon
oleh masyarakat (syarat). Yaitu sesuatu yang dengannya membolehkan sampainya tujuan.
· Ia harus mampu menahan diri dan memiliki
pertimbangan yang akurat, hingga tahu persis dalam batas mana potensinya
relevan diungkapkan (batas). Sesuatu yang dengannya menjamin tercapainya yang
dituju.
Pengetahuan tentang dimensi esensial dari wujud kehidupan
(Asal, Batas dan Tujuan) beserta dimensi eksistensialnya (Sebab, Alat, dan
Syarat) dapat kita tegakkan untuk membangun sebuah paradigma proses kreatif
yang akan menawarkan jalan keluar dari situasi chaos yang berlarut-larut demi menggapai terang yang kita harapkan
bersama
Membangun Budaya Baru
Dengan Paradigma Proses Kreatif yang sederhana, mudah
dipahami, dan bisa dilaksanakan semua orang (universal) tanpa merugikan pihak
lain, bersifat kreatif, mandiri tetapi efektif buat semua, setiap kelompok umat
akan dapat melahirkan budayanya sesuai dengan cita-rasa, potensi dan kebutuhan
ke dalamnya, hingga mereka menemukan identitas budayanya yang mampu menopang
wujud kehidupan global yang fair. Bukankah makna berbudaya adalah memberi
kepada pihak lain. Oleh karena itu tanpa menemukan identitas diri tak ada
sesuatu pun yang bisa diberikan. Betapa besar peran “penguasaan diri” di dalam
proses berbudaya dapat kita maklumi, karena jangkauannya adalah nasib orang
banyak (masyarakat), sedang asetnya menggarap diri seumur hidup.
Setelah identitas budayanya ditemukan, barulah mereka
menjadi relevan untuk memasuki dimensi proses yang baru, yaitu, berorientasi
kebenaran. Selanjutnya tak ada lagi orientasi identitas yang memporak-porandakan
keutuhan umat, karena identitas eksistensialnya telah ditemukan, sedang kualitas
pribadi (komunitas) seterusnya akan ditentukan oleh output-nya kepada kehidupan
yang lebih luas. Dengan demikian globalisasi menjadi mungkin, tanpa harus
memojokkan budaya apa pun di dunia ini yang insya Allah akan di terima oleh
bangsa-bangsa lemah, karena mereka tidak lagi menjadi sasaran ekspansi
bangsa-bangsa maju melainkan sebaliknya akan menjadi sasaran pemikiran dan
tunjangan sarana tanpa pamrih dari mana pun dan siapa pun yang telah
berorientasi kebenaran.
Alhamdulillah.

0 Komentar