:: Muhammad Zuhri
Muqadimah
Nun jauh di ufuk lalu planet kita yang mungil ini sering dikunjungi oleh hamba-hamba rabbani yang telah mengukir sejarah umat manusia dengan ornamen surgawi.
Mereka adalah para penempuh jalan kebenaran yang tiada
tanding, para pencari yang berhasil menemukan dirinya yang bukan anak struktur,
dan para piawai yang telah menyelamatkan bumi dari kefanaannya.
Mereka datang dari puncak gunung, dari tepi ngarai, pinggir
samudera dan dari padang pasir yang
tandus bukan untuk berburu dan mengumpulkan kekayaan duniawi, melainkan hendak
mengajak umat manusia untuk menunda datangnya hari kiamat dan sekaligus
mengurungkan kematian.
Mereka menulis puisi bukan untuk berpuisi, karena dirinya
telah berupa puisi konkret yang didendangkan oleh para Malaikat. Mereka juga
meninggalkan wacana-wacana tetapi tidak untuk berwacana, karena perilaku mereka
telah berwujud wacana-wacana yang dinyanyikan oleh bintang-bintang di langit,
embun pagi, arakan awan dan ombak di lautan.
Mereka tidak memiliki sesuatu dan tidak pula dimiliki oleh
sesuatu, karena pada hakikatnya mereka milik semua dan pemilik semua. Mereka
dikenal oleh kebanyakan manusia sebagai para Rasul, para Nabi dan para penempuh
jalan kebenaran atau Sufi.
Bagai kendaraan mereka turun dari langit, ketika Sang Maha
Pengasih rindu menjenguk makhluk-Nya. Mereka juga kereta-kereta pada saat Sang
Pemelihara semesta mencemaskan keadaan hamba-hamba-Nya.
Berbahagialah bangsa yang dikunjungi, lestarilah negeri yang
disinggahi dan cemerlanglah dataran planet yang diinjaknya. Bagai sayap-sayap
raksasa mereka menaungi umat manusia dari murka Tuhan dan duka berada.
Semoga berkilau maqam mereka hingga hari kebangkitan.
Sebuah Karya
Ensiklopedi Tentang Tasawuf
Salah satu dari warisan kepustakaan para sufi adalah Risalatul Qusyairiyah yang ditulis oleh
Imam Qusyairi dari Naisabur. Sebuah karya ensikiopedik yang menghimpun
pendapat-pendapat para Sufi terdahulu tentang Prinsip-prinsipTauhid dalam
pandangan Kaum Sufi, Terminologi Tasawuf dan Maqamat Para Penempuh Jalan Sufi.
Di awal penjelasan tentang Terminologi Tasawuf, penulis
memperkenalkan identitas Sufi sebagai “anak sang waktu”. Maka, menjadi jelas bagi kita bahwa mujahadah
seorang mutasawwif bersifat internal dengan fokus perjuangan menemukan
identitas diri yang paling final.
Sesungguhnya dimensi yang mereka arungi merupakan sisi gelap
manusia yang tak mungkin dapat disingkapkan dengan kunci-kunci keruangan. Hal
itu disebabkan kelemahan ilmu pengetahuan obyektif dalam menembus dinding
subyek.
Memang demikian kenyataannya. Pencarian diri dengan
berorientasi keluar tidak pernah dapat menyelesaikan masalah, bahkan berdampak
memecah kesatuan umat manusia di dalam berbagai paham falsafah. Karena apa yang
didapatkan dengan upaya tersebut hanya sebuah persepsi tentang diri, bukan
kenyataannya.
Muncullah para Nabi. Dengan petunjuk Ilahi mereka berusaha
menyatukan kembali kenyataan umat dengan menawarkan “Hamba Allah” sebagai
identitas setiap individu manusia.
Tawaran ini memang akurat, masuk akal dan efektif bagi hati
nurani yang demen pada kehidupan dan mencintai kedamaian. Tetapi betapa pun hal
itu masih berupa “pengetahuan verbal” atau “ilmul-yakin” yang perlu diuji
kebenarannya dalam kenyataan.
Setelah kita benar-benar menyaksikan wujud hamba Allah yang
berintegritas mensemesta yang selalu aktual di dalam pengabdian yang tinggi
kepada seluruh ummat manusia dimana dan kapan saja ia berada, barulah dapat
dikatakan kita telah memiliki “pengetahuan visual” atau “ainul-yakin”
terhadapnya.
Secara kondisional pribadi seperti tersebut di atas layak
diangkat sebagai Mursyid, kendati ia bukan seorang ustad dari sebuah halaqah
spiritual. Karena Mursyid bukanlah fungsi yang dapat diamanatkan oleh sebuah
lembaga atau lingkungan ummat untuk melaksanakan tugas pembentukan pribadi, melainkan
kualitas spiritual seseorang.
Bila dengan panduannya kita berhasil memiliki konsistensi
aktual secara “ihsan”, barulah kita dapat disebut memiliki “pengetahuan actual”
atau “haqqul-yakin”.
Dari kondisi seorang beriman secara doktrinal hingga mencapai
derajad Muhsin membutuhkan proses panjang yang didukung dengan tekad yang
membaja, himmah yang kuat, disiplin yang keras dan praktikum-praktikum dengan
diri yang tak kenal jenuh, disertai gemar berkontemplasi, berefleksi dan
berkoeksistensi dengan akhlakul-karimah terhadap siapa saja, baik berwujud
manusia atau pun hayawan, sebagaimana dibentangkan secara rinci di dalam
Maqamat Para Penempuh Jalan Sufi.
Bila para Nabi dengan Kitab-Sucinya telah berhasil
mengungkapkan “kebenaran universal” yang tidak berkerut oleh zaman para Sufi
telah melahirkan kebenaran “kontekstual” yang tak berulang sepanjang zaman.
Itulah “hikmah” yang tidak akan pernah bisa ditiru, tetapi sangat tinggi
nilainya sebagai pengetahuan antar subyek di kalangan hamba Allah.
Kehadiran para Sufi di dalam realita kehidupan orang beriman
menunjukkan kepada kita wujudnya “seni bertuhan” yang tak kalah mengasyikkan
dibanding dengan pengembaraan di bidang keilmuan dan seni apa pun di dunia ini.
Marilah kita jamah keotentikannya melewati analisa berikut
ini.
Isi: Tawakal, Peran,
Dunia Diri, dan Titik Beda
Gaya hidup profetik para Sufi memiliki kemiripan dengan gaya
hidup kenabian Sayidina Isa a.s. Mereka lebih dominan berorientasi pada
pembentukan diri yang akurat dibanding dengan berekspansi ke dalam
semesta-struktural, sehingga mereka dapat mencapai kondisi sempurna secara
individual.
Bagi golongan tersebut Allah berkenan memindahkan
kepengurusan hidup mereka langsung ke tangan-Nya tanpa dukungan ilmu
pengetahuan obyektif yang lazim digunakan di dalam mengatasi kebutuhan hidup.
"Dan barangsiapa
yang bertawakkal kepada Allah, maka Allah cukup baginya." (Ath-Thalaq:
3).
Di dalam kondisi diri orang yang bertawakal kepada Allah
telah terjadi transendensi dari urusan hamba menjadi urusan Tuhan, disebabkan
“aku-insaniyah” orang tersebut telah mati. Wujudnya tinggal instrumen jasadi
yang digerakkan langsung oleh iradah-ilahiyah. Kalangan Sufi menyebutnya
sebagai maqam fana (fana' fi iradatillah)
atau manunggaling kawula Gusti dalam
idiom Jawa. Kenyataan yang demikian hanya bisa terjadi bagi mereka yang
benar-benar putus asa kepada dunia.
"Dan tiadalah
kehidupan dunia itu, kecuali kesenangan yang menipu." (Ali-Imran:
185);
"Dan tiadalah
kehidupan dunia itu, kecuali permainan dan senda gurau." (Al-An'am: 32).
Tekad yang bulat disertai kerelaan hati mereka yang tinggi
di dalam menyerahkan totalitas pengabdian, hidup dan matinya kepada Allah telah
mengantarkan mereka pada rahasia ilham dan kasyaf atau ilmu dari sisi-Nya.
"Mereka menemukan
seorang hamba Kami yang Kami beri rahmat dari hadirat Kami dankami ajari dari
ilmu Kami." (Al-Kahfi: 65).
Di dalam aktualisasi diri tanpa motif selain amr-Allah tersirat wujudnya “peran”
ketuhanan di dalam diri pelakunya.
"Dan apa yang aku
lakukan tidak dari kemauanku sendiri." (Al Kahfi: 82).
Resikonya ia akan terlempar ke dalam keunikan yang sulit
dipahami dan terpisah dari lingkungannya.
"Inilah saat
perpisahan antara aku dengan engkau". (Al-Kahfi:78).
Ketika itu seorang Sufi telah berdiri di atas “titik beda”
dengan semua individu yang ada (Khariqul-adah).
Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani di dalam efidensinya sempat
bercengkerama dengan Tuhan seraya berkata, "Engkaulah yang Tunggal di
langit, dan akulah yang tunggal di bumi".
Begitu pula Jibran di dalam An-Nabi, "Sendiri tanpa
sangkarnya rajawali terbang mengepak langit".
Pernah Ibnu Sina menegur seorang Sufi bermaqam fana,
"Apakah yang tampak bila tak ada orang yang melihat?"
Sufi tersebut menjawabnya dengan pertanyaan pula, "Apa
yang tidak tampak ketika ada orang melihat?".
Sebenarnya apa yang sedang disaksikan oleh Sang Fana adalah
wajah di balik wajah dan makna di balik makna yang hanya bisa terlihat di dalam
bashirah seorang Ahli Sirr.
Pengetahuan tersebut sama sekali tidak didukung oleh
referensi ilmu atau pun hukum kausalitas alam, bahkan ia lahir dari
pengingkaran terhadapnya. Semua sebab telah gugur di depan mata Sang Asyik,
yang tampak tinggal Wajah Sang Musabbib, seperti mata Majnun yang tidak bisa
melihat selain wajah Laila.
"Ke mana saja
engkau menghadap, di situ wajah Allah." (Al Baqarah:115).
Sebagai seorang mutawakilin tak ada perbuatan yang layak
dilakukan selain mentelaah isyarah-isyarah, berita dan amr Tuhan untuk mencapai keniscayaan di dalam setiap langkah
pengabdiannya.
"Wahai Zat yang mengetahui rahasia hatiku, cukuplah
bagiku memandang-Mu, cukuplah bagiku", gumam Al-Haddad dalam munajadnya.
Apabila yang tinggal di dalam hati seseorang hanya Allah dan
kehambaan dirinya, maka praktis akan sirna rasa ujub, kibir, loba, tamak, iri,
hasud, dengki, riya' dan sum'ah, apalagi kemauan bertindak makar, kadzib,
ghibah maupun fitnah dari dalam dirinya. Bahkan akan lenyap pula rasa khawatir
terhadap masa depan dan gundah mengenang masa lampau yang menjadi penjara waktu
bagi kebanyakan makhluk berakal (Al-Baqarah: 38, 62, 112, 262, 274, 277).
"Sesungguhnya
orang-orang beriman, dan orang-orang Yahudi dan Nasrani dan Shabiin, siapa yang
beriman kepada Allah dan hari akhir, dan melakukan amal salih, maka bagi mereka
pahala di sisi Tuhannya, dan tiada mereka
khawatir dan berduka cita." (Al-Baqarah: 62).
Memasuki dunia Sufi adalah memasuki semesta absurditas, atau
lebih tepatnya memasuki semesta yang tiada orang lain tahu petanya kecuali
Allah, yaitu semesta diri yang tak ada kembarannya di dalam kehidupan.
"Dan tiadalah
seorang pemikul beban, memikul beban pihak lain" (Al-An'am: 164);
"Dan tiadalah
bagi seseorang, melainkan apa yang dia usahakan" (An-Najm: 39).
Tak ada metodologi yang sama bagi setiap penempuh. Yang ada
hanya sebuah tangan yang menuding. Boleh jadi ia seorang Mursyid, Kitab Suci,
dongeng-dongeng, derita, malapetaka atau sentuhan tangan manusia Tuhan atau apa
saja yang digunakan Allah sebagai pedang untuk memisahkan seseorang dari
selain-Nya.
"Dan siapa
bersungguh-sungguh mencari ridha Kami, niscaya akan Kami tunjukkan mereka
jalan-jalan Kami." (Al Ankabut: 69).
Sebagaimana para Nabi, para penempuh jalan kebenaran tidak
melewati lorong yang sama untuk sampai ke rumah dirinya yang agung.
"Jangan sekali-kali engkau berpindah dari ma'rifatmu
sendiri ke dalam ma'rifat orang lain,
karena itu hak Allah, bukan hakmu untuk melakukannya" pesan Syeikhul Arif
Billah Muhammad bin Abdul Jabbar An-Nifari kepada para salik. Demikianlah Sufi
tidak bisa dimiliki atau menjadi monopoli sebuah agama, ras maupun bangsa,
meski pada mulanya ia lahir di suatu negeri dan dalam asuhan sebuah agama.
Seperti nabi-nabi, setiap sufi menjadi milik semua, tetapi
justeru karena itu ia terlempar ke dalam kesendirian Tuhan yang tak
tertanggungkan. Selebihnya tiada baginya tempat bertanya, tiada pula kawan
berbagi derita. Sendiri ia memikul duka Tuhan seutuh usia.
Demikianlah keadaan seseorang yang berada di dalam martabat
wahdah (unity).
"Dan siapa yang
buta di dunia ini maka dia akan buta di akhirat kelak dan lebih sesat lagi jalannya."
(Al Isra: 72)
Kelengkapan: Taqwa, Fungsi, Dunia Milik, Titik Temu
Titik temu adalah kesamaan anggapan tentang nilai-nilai yang
terbentang dalam cakrawala kehidupan yang menjadi sasaran operasional setiap
individu manusia (dunia milik).
Penguasaan terhadapnya berwujud orientasi keluar lewat
pengabdian sosial, menawarkan hasil kreatifitas atau bereksplorasi keruangan
dengan mengadakan penelitian dan eksperimen dengan alam benda dan lingkungan
manusia yang menghasilkan berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi serta
pandangan hidup yang bersifat obyektif.
Berkiprah di dalam dimensi tersebut membutuhkan aset yag
berupa intelektual, bakat, keahlian dan pengetahuan tentang kausalitas alam dan
sosial, serta ambisi yang kuat sebagai
dinamis-motifnya.
Tujuannya untuk mendapat pengakuan dan kepercayaan dari
masyarakat manusia agar dapat berperan-serta didalam menangani kepentingan
bersama di dalam berbagai bidang kehidupan.
Golongan yang berekspansi ke luar lewat dimensi nilai ini
disebut golongan muttaqin oleh Al-Qur'an.
"Dan siapa taqwa
kepada Allah, Allah akan menjadikan baginya jalan keluar, dan akan memberinya
rizki dari arah yang tak dapat diduga" (Ath-Thalaq:3).
Bedanya dengan anak sang waktu (mutawakilin) yang
mendapatkan “peran” yang tak tergantikan dari
Tuhan, putera ruang (mutaqin) ini akan memperoleh “fungsi” dari
masyarakat yang dapat digantikan oleh pihak lain. Bila anak sang waktu
dianugerahi ilmu Allah yang tak bisa dicerna akal, putera ruang akan dikaruniai
ilmu pengetahuan obyektif dari masyarakat dan alamnya. Ketika anak sang waktu
menemukan titik beda dirinya dengan yang lain sebagai hasil dari menggarap
diri, putera ruang menemukan titik temu dirinya dengan semua individu lewat
menggarap alam dan lingkungannya. Dan ketika seorang mutawakilin berada dalam
martabat wahdah (unity), seorang mutaqin berada dalam martabat jam'iyah (universality).
Begitulah tawakal dan taqwa merupakan dua konsep orang
beriman di dalam menemukan dunia-diri dan dunia-milik sebagai medan mencari
ridha Allah.
Kegagalan seseorang di dalam menangani dunia-milik
disebabkan kurang akuratnya dalam menggarap dunia-diri. Maka untuk mengatasi
semua masalah yang berupa bencana, stagnasi, ataupun dilema kehidupan bukan
dengan aktivitas keluar, melainkan dengan kembali membenahi dunia diri atau
sisi dalam dari realita kehidupan kita.
"Sesungguhnya
Allah tidak merubah keadaan yang ada dalam suatu kaum sehingga mereka merubah
apa yang ada di dalam dirinya." (Ar-Ra'du: 30).
Dan lahirlah sufi-sufi Muhammadis yang berorientasi dalam
dua semesta sekaligus dengan konsep Taqwa dan Tawakal demi mencari ridlaNya di
dunia dan di akhirat, dan tutuplah layar kerahiban yang lari dari tanggung
jawab sosial untuk mencari kepuasan spiritual semata.
Kerahiban merupakan penyimpangan dari perolehan ketawakalan
demi mencapai kesucian pribadi, sehingga tertutup baginya untuk menyentuh
semesta ketakwaan.
"Dan mereka
mengada-adakan kerahiban yang tidak Kami perintahkan kepada mereka."
(Al-Hadid: 27)
Kesimpulan
Dalam dimensi tawakal di mana setiap indivu muslim telah
menemukan titik beda dengan semua individu lain, agama Islam bahkan menemukan
titik temu dengan semua agama yang ada. Sebaliknya dalam dimensi taqwa ketika
individu seorang muslim telah menemukan titik temu dengan semua individu manusia,
Islam berada di titik beda dengan agama lain, karena keluasan syariatnya yang
mencakup urusan duniawi. Hal itu membuat Islam sering diberi predikat sebagai
agama materialis oleh pihak lain.
Namun, betapa pun akhirnya harus diakui bahwa Islam
merupakan satu-satunya agama yang berhasil memadukan dua dimensi yang biasa
dipertentangkan dengan konsep wujud berpasangan (zaujaini). Yaitu dunia-diri yang dapat di atasi oleh Sayidina Isa a.s.
dengan sifat Quddusnya dan dunia-milik yang berhasil di atasi oleh Sayidina
Musa a.s. dengan teknologi-nya (tongkat).
Dunia diri dan dunia milik merupakan masalah paling dasar di
kehidupan manusia, karena keduanya sulit untuk dipadukan dalam proses aktual
tanpa yang satu membantai yang lain. Dampaknya dalam sejarah beragama pernah
memecah umat Islam menjadi paham Jabariyah
dan Qadariyah, golongan Hakikat dan
Syariat serta Kaum Sufi dan Fuqaha.
Hal itu tidak akan bisa terjadi bila kita sadar bahwa dalam
Islam tidak ada konsep kepemilikan. Semua fasilitas yang disebut dunia milik
telah kita terima sebagai amanah atau titipan Tuhan yang harus kita sampaikan
kepada yang berhak, yaitu kehidupan (Al-Ahzab: 72).
"Sesungguhnya
Allah memerintahkan kepada kamu untuk menyampaikan amanat kepada yang berhak."
(An-Nisa': 58)
Selanjutnya untuk memotifasi diri dengan taqwa dan tawakal
di setiap proses aktual, Al-Qur'an mengajarkan teknis dasar yang tersirat di
dalam kalimat doa, "Tuhan,
masukkanlah aku (ke dalam dunia diri) dengan benar (tawakkal) dan keluarkanlah
aku (ke medan amanat) dengan benar (taqwa) dan jadikan bagiku kekuatan penolong
dari hadiratMu" (Al Isra: 30).
Bila target tersebut terwujud, kita akan menemukan kenyataan
seorang insan kamil (mukmin yang sempurna) yaitu seorang yang bermartabat
wahdah (unity) sekaligus bermartabat jam'iah (universality).
Kini kita berada pada kurun zaman di mana ketaqwaan
dislogankan dan ketawakalan dicurigai akan menghambat perkembangan umat
manusia.
Setiap orang berusaha merebut fungsi yang tinggi tanpa
peduli apakah dirinya sanggup berperan dengan benar atau tidak. Padahal kita
semua tahu bahwa fungsi yang tinggi tanpa kesanggupan memerankan diri yang kualifaid
akan menimbulkan huru-hara dan bencana besar bagi umat manusia. Sedang pemeran
yang baik tanpa fungsi yang dipercayakan kepadanya oleh lingkungan tetap akan
dapat memproduk nilai buat sesamanya.
Mungkin karena kesadaran akan hal ini tasawuf mulai dilirik
oleh manusia modern yang telah cemas menyaksikan “peran aneh” yang dilakukan
oleh umat manusia di panggung sandiwara dunia.
Kalau hal itu benar, janji tentang turunnya missi Sayidina
Isa a.s. (tasawuf) untuk membenahi dan menyempurnakan kualitas pribadi kaum
Muslimin di akhir zaman telah tiba.
Untuk itu saya ucapkan: "Selamat datang abad spiritual!
Selamat datang Para Penempuh Jalan Kebenaran! Rahmat Tuhan di matamu!
Wallahu A'lam
bishshawab. []
Baca juga: Tanggungjawab Kreator

0 Komentar