Memasuki gerbang Kantor Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Semarang, yang persis di sebelah utara alun-alun lama Ungaran, saya terus mengandai-andai bahwa Keluarga Literasi Ungaran (Kelingan) itu diminati banyak orang. Tapi, ya, entahlah.
Seusai memarkir sepeda
motor, masuk ruang audio visual lantai 1,
telah hadir Hamida dan Arie, tim inti Kelingan, beserta Ika Febri dan Daffa, juga
tim inti (yang baru). Namun Arie sedang ada urusan kepustakaan di ruang
sebelah, sehingga praksis baru kami berempat yang memulai obrolan ringan
pengantar Kelas Baca, sebelum akhirnya Arie datang bergabung. Hadir pula, Dwi
Siwi Andyani, pustakawan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan, yang sedari perdana
pada bulan yang lalu turut menemani.
Sebagaimana pada kelas
baca sebelumnya, malahan saat reading class yang kedua ini lebih sedikit
dari anggota Kelingan yang berkesempatan hadir. Tapi saya tetap melihat rona
muka semangat mereka, meskipun berangkat dari pelbagai
latar yang tak sama, nasib yang berbeda, atau profesi harian yang macam-macam.
Saya merasakan satu tekad yang membuncah: belajar bareng.
Begitulah Kelingan
atawa Keluarga Literasi Ungaran pada siang itu, Selasa 1 Oktober 2024. Hadir
untuk berdiskusi. Mempercakapkan cerpen dan novel. Dan, cerpen yang dibedah milik
Musyarofah, sementara novel karya Ika Febri.
Saat menyimak cerita
Musyarofah, Mas Roni, dibacakan secara bergiliran oleh Daffa dan Ika,
pikiran saya melayang pada konsep sastra profetik-nya Kuntowijoyo. Menurut Pak
Kunto, begitu ia akrab disapa, sastra tidak saja menyerap atau mengekspresikan
sesuatu, tapi juga memberi arah. Jadi, tidak berhenti sastra adalah sastra,
yang semata simbolis, tetapi mengarahkan pada nilai ketuhanan atau kemanusiaan.
Musyarofah sukses
membawa pola sastra yang demikian. “Mas Roni segera menuju masjid di seberang pasar. Juragan
mudaku itu tak ingin ketinggalan salat berjamaah. Persis seperti ayahnya.
Beruntung sekali aku berada di tengah keluarga yang taat beragama.”
Berbeda misal,
kebanyakan cerpen Seno Gumira yang kental dengan wajah sastra adalah sastra,
tidak kurang dan tidak lebih. Walau tidak semua karyanya demikian. Seperti Pelajaran
Mengarang, salah satunya, teramat sangat dahsyat untuk menggambarkan duka
anak yang ibunya seorang pelacur.
Dari cerita Mas
Roni, saya juga teringat dengan Animal Farm karya George Orwell,
oleh Mahbub Djunaidi diterjemahkan menjadi Binatangisme, novel satire
tentang kekuasaan teramat kemaruk, yang diperankan para binatang. Musyarofah
menghadirkan dialog-dialog aneka sayuran seperti wortel, kacang panjang, cabe
rawit, bayam, dan sebagainya. Artinya, dari keduanya menyajikan cerita dengan
tokoh-tokoh utama non-manusia. Ada satu dua tokoh manusia, tapi berperan
sekunder.
Percakapan pada siang
itu pun mengalir bak gemericik aliran sungai, silih berganti saling menguatkan.
Cuma berikutnya, saat pembahasan novel milik Ika, saya terdiam. Saya tak
sanggup bercerita di sini. Mungkin Arie atau Hamida yang nanti bersaksi atas
novel yang ditulis Ika tersebut.
Saat itu, sungguh saya
murni jadi pendengar atas percakapan mereka, terutama ketika Daffa dan Ika
saling sanggah tukar pengetahuan. Hati kecil saya bersyukur, dalam keluarga Ungaran ada
bibit-bibit muda yang menjanjikan. Mereka pintar dan menunjukkan kesungguhan
sebagai penulis. Sungguh puji Tuhan.
Di ruang itu, pengandaian saya saat memasuki gerbang kantor tetang kuantitas Kelingan
seketika menguap. Begitu menyaksikan Daffa dan Ika, serasa tak butuh banyak
orang untuk menggemakan pentingnya membaca dan perlunya menulis di tlatah
Ungaran. Toh kehadiran dua orang ini benar-benar memadai dan memenuhi angan
saya.
Saya tertegun memperhatikan dua muda dengan sorot
mereka masing-masing yang
sedemikian serius menyelami pelbagai model bercerita. Saya
terpesona. Juga terharu. Dan yang
pasti, saya tak paham betul dengan gejala sastra kekinian. Dari merekalah saya menyerap,
meski sekali lagi tak banyak yang saya pahami. Mereka seolah mengajak saya
untuk berani bereksperimen dalam berkisah.
Ya, di ruang itu, akhirnya saya dimantapkan
bahwa Keluarga Literasi Ungaran ini benar-benar komunitas
yang tak perlu banyak orang. Toh yang terpenting ruh menulis, bukan sorak sorai
bak eceng gondok yang memenuhi permukaan Rawa Pening.
Lantaran Kelingan, akhirnya memang bukan
sebuah kerumunan yang meniscayakan banyak anggota, yang sekadar kumpul dan
menuntaskan hajat sesaat, melainkan sebuah barisan rapi. Memiliki member real yang mengerti betul adanya ketidakberesan di dunia literasi. Setiap diri yang mendambakan perlunya menulis,
apa pun genre karya tulis yang diminati.
Saya yakin kawan-kawan
di Tim Inti Kelingan—Putu Ayub, Hamida, Dewi Rieka, maupun Arie, Ikka, serta
Daffa—satu frekuensi dengan saya bahwa seyogianya Ungaran tak sekadar identik
sebagai kawasan kuliner dan pabrik garmen. Ungaran sedianya menjadi panggung
literasi. Dan reading class dengan bedah cerpen tiap anggota Kelingan
bisa menjadi salah satu upaya “menganiaya diri” pada tiap anggota untuk bisa
menghasilkan tulisan cerita yang baik dan enak dibaca.
Kembali pada cerpen yang ditulis Musyarofah, terus
terang akhirnya saya mesti becermin, “Kuhadirkan hati dan
pikiran. Kukuatkan keihlasan. Kukokohkan keyakinan. Tentu ada banyak hikmah dan
kebaikan, saat Allah memberikan sebuah ketetapan.”
Saya terperenyak,
membaca ulang cerpen itu. Musyarofah seakan mendesak saya untuk tidak
mengumbar luapan yang tak teragendakan. Yang jelas-jelas tak memiliki target jangka panjang. Yang tak
sempat menelisik kedalaman masalah.
Oleh
karenanya, jangan sampai akhirnya saya meratapi Keluarga Ungaran itu macam
sepeda motor Mas Roni yang tak lagi mendengar cengkerama aneka sayur
mayur, atau tak lagi mendengar celoteh mak-mak
berbelanja.
Alhasil, Musyarofah pamit duluan, tak sempat
berfoto bareng. Dan sebelum berakhir, pukul 15.47, Daffa menyediakan cerpennya
yang bakal dibedah dua pekan kemudian, yang akan disandingkan dengan cerpen
karya Dewi Rieka.
Begitulah!
Ungaran, 01 Oktober 2024 &
6 Juni 2026

0 Komentar