Palestina adalah negara khayalan, ungkap Faisal Assegaf di suatu podcast bersama Arie Untung, dan wawancara di NusantaraTV.
Faisal menjelaskan poin-poin kenapa
Palestina merupakan negara khayalan. Ada faktor internal, dan faktor eksternal.
Faktor Internal
Pertama,
tidak adanya persatuan Palestina. Semua upaya untuk memerdekakan Palestina
bakal menjadi mentah selagi bangsa Palestina belum bisa bersatu.
Kenyataannya sampai sekarang Palestina
terbelah. Kelompok-kelompok perjuangan belum bersepakat mengenai negara merdeka
dan berdaulat seperti apa yang mereka impikan. Oleh karenanya, Palestina mesti
menggelar referendum untuk menyaring keinginan semua rakyat Palestina tentang
negara diimpikan.
Ada dua konsep yang ditawarkan: solusi satu
negara atau solusi dua negara. Nah, referendum itulah yang akan memutuskan mana
sesungguhnya pilihan rakyat Palestina.
Artinya, referendum ini harus diikuti oleh
oleh semua rakyat Palestina dari berbagai kalangan. Entah Islam, Nasrani, atau
pun Yahudi, semua mesti berpartisipasi. Termasuk yang pernah menetap di
Palestina sebelum Deklarasi Balfour pada 1917, yakni para pengungsi dan
keturunan mereka yang tinggal di luar negeri.
Berikutnya, soal persatuan ini juga tak
mudah mengingat Israel telah menerapkan blokade pada Juni 2007, sehingga
praktis wilayah Palestina terbelah. Jalur Gaza terpisah dengan Tepi Barat.
Selama blokade masih berlangsung, tidak akan pernah ada yang namanya persatuan
Palestina. Karena itu, para pemimpin negara Arab dan muslim dibantu masyarakat
internasional harus mendesak negara Zionis itu untuk segera mencabut blokade.
Kita tahu dari media-media, akibat blokade
itu hampir dua juta warga Palestina di Gaza kesulitan untuk memenuhi kebutuhan
hidup lantaran semuanya diatur dan dibatasi oleh Israel. Blokade ini membikin
warga Gaza putus asa dan kehilangan harapan. Dan yang pasti, tidak adanya
hubungan langsung antara warga Gaza dan Tepi Barat.
Belum lagi soal Hamas dan Fatah, faksi
perjuangan terbesar Palestina. Hamas mendominasi Gaza sedangkan Fatah berkuasa
di Tepi Barat.
Kedua kelompok itu berbeda haluan dalam
menghadapi Israel. Hamas berideologi tidak akan pernah mengakui dan bahkan
bersumpah menghancurkan negara Zionis yang dibentuk pada 14 Mei 1948. Mereka
juga menolak konsep negara Palestina dengan wilayah sebelum Perang Enam Hari
pada 1967.
Sedang Fatah memilih strategi berkompromi
dengan Israel walau tidak pernah mencapai hasil memuaskan. Fatah sepakat solusi
dua negara dengan wilayah negara Palestina yang hanya meliputi Tepi Barat dan
Jalur Gaza, sesuai teritori sebelum Perang 1967.
Singkatnya, kedua faksi itu sulit untuk
rekonsiliasi, apalagi Hamas pernah dikhianati. Hamas mestinya memimpin
pemerintahan seusai memenangi pemilihan umum pada Januari 2006, tetapi diboikot
Fatah, Amerika Serikat, dan Israel.
Kedua,
konflik agama. Sangat keliru kalau ada yang bilang isu Palestina merupakan
persoalan nasionalisme semata. Jelas-jelas, persoalan penjajahan Palestina oleh
Israel lebih kental konflik agamanya.
Sedari awal berdiri 14 Mei 1948, Israel
menjadikan agama sebagai dasar. Negara Zionis ini merasa berhak mendiami
wilayah milik bangsa Palestina dengan dalih sebagai tanah yang dijanjikan
Tuhan. Alhasil, beragam upaya mereka untuk mempertahankan dan bahkan makin
memperluas wilayahnya merupakan tugas suci atas perintah Tuhan.
Dan nuansa agama ini kian kental terkait
isu Yerusalem, atau Baitul Maqdis dengan kompleks Masjidil Aqsa-nya kalau dalam
kacamata Islam.
Israel menegaskan Yerusalem secara
keseluruhan, termasuk Yerusalem Timur menjadi ibu kota. Yerusalem sebagai
ibukota abadi Israel dan tidak dibagi dua. Klaim sepihak ini sudah dituangkan
dalam Hukum Dasar Yerusalem yang disahkan oleh Knesset (parlemen Israel) pada
1980. Israel bahkan meyakini sebelum ada Masjidil Aqsa, tadinya berdiri Kuil
Suci Yahudi, Kuil Sulaiman.
Pun di pihak Palestina, termasuk bahkan
umat Islam di seluruh dunia tentu tidak akan pernah rela sekira Masjidil Aqsa
dirobohkan demi mewujudkan cita-cita Israel mendirikan Kuil Suci ketiga.
Masjidil Aqsa merupakan tempat ketiga paling disucikan oleh kaum muslim sejagat
setelah Masjidil Haram di Kota Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah.
Masjidil Aqsa pernah menjadi kiblat kaum
muslim sebelum beralih ke Ka’bah. Masjidil Aqsa juga merupakan lokasi istimewa
karena menjadi landasan Baginda Muhammad Saw. naik ke Sidratul Muntaha, yang
kemudian turun perintah salat wajib lima waktu.
Artinya, baik Palestina maupun Israel,
merebut dan mempertahankan Yerusalem adalah kewajiban atas nama agama dan itu
tidak dapat dikompromikan. Konflik bernuansa agama kini kian meruncing, karena
IDF berkuasa penuh mengatur dan menyeleksi siapa saja yang boleh ke Masjidil
Aqsa.
Apalagi memang, Yerusalem atau kota Baitul
Maqdis ini adalah kota bergengsi, bukan saja dalam konteks agama, melainkan
juga politik, dan ekonomi. Palestina dan Israel sama-sama menyadari siapa bisa
menguasai kota tersebut, merekalah pemenang dari konflik berkepanjangan ini.
Kita tahu, Baitul Maqdis atau Yerusalem
memiliki status seperti Makkah dan Madinah di Arab Saudi: sama-sama kota suci.
Kalau Makkah dan Madinah hanya kota suci bagi umat Islam, Yerusalem merupakan
kota suci bagi tiga agama: Islam Yahudi, dan Nasrani.
Bisa dibayangkan potensi keuntungan ekonomi
dari wisata religi di Yerusalem. Pemeluk ketiga agama itu sama-sama
diperintahkan berkunjung ke Yerusalem: Islam salat di Masjidil Aqsa, Yahudi
merapat ke Tembok Ratapan, dan Nasrani menziarahi Gereja Makam Yesus.
Palestina sudah merelakan hanya menjadikan
Yerusalem Timur, tidak termasuk Yerusalem Barat, sebagai calon ibukota negara
mereka. Namun Al-Aqsa, Tembok Ratapan, dan Gereja Makam Kudus itu sama-sama
berada di Yerusalem Timur.
Dan sekali lagi Israel sedari dini telah
mengeklaim Yerusalem secara keseluruhan adalah ibukota abadi mereka, tidak
dapat dibagi dua dengan Palestina.
Ketiga, ada
dua isu lagi terkait wilayah sebelum Perang Enam Hari 1967, dan pemulangan
pengungsi Palestina.
Berdasar solusi dua negara yang turut
diamini pemerintahan Palestina—faksi Fatah—yang dipimpin Mahmud Abbas, negara
Palestina yang dibentuk ini meliputi wilayah sebelum Perang Enam Hari 1967.
Artinya negara Palestina nantinya hanya akan terdiri dari Tepi Barat dan Jalur
Gaza, ini yang tidak dimaui oleh Hamas dan segenap pendukung one-state
solution: Palestina.
Dan isu terkait wilayah ini makin teramat
sangat sulit diselesaikan selama Israel memblokade Gaza, sehingga wilayah
seluas setengah lebih sedikit dari Jakarta (360 kilometer persegi) ini terpisah
sama sekali dari Tepi Barat.
Terlebih negeri Bintang Daud itu memang
tidak ingin mencabut blokade selama masih ada Hamas, yang nyata-nyata berkuasa
penuh di Gaza dan sedari awal tidak mau mengakui eksistensi serta berkompromi
dengan Israel.
Lagian Tepi Barat pun tidak bisa sepenuhnya
menjadi wilayah negara Palestina lantaran masih ada permukiman Yahudi di sana.
Karena keberadaan permukiman Yahudi inilah yang membuat militer Israel saban
hari melancarkan operasi keamanan, membatasi pergerakan rakyat Palestina dengan
mendirikan sekitar 650 pos pemeriksaan dan blokade jalan. Ditambah lagi dengan
berdirinya tembok pemisah di Tepi Barat sepanjang lebih dari 700 kilometer.
Isu berikutnya adalah pemulangan pengungsi
Palestina. Saat ini terdapat sekitar 7,2 juta pengungsi Palestina di seluruh
dunia. Dari jumlah itu, lebih dari 4,3 juta pengungsi dan keturunannya terusir
dari rumah mereka pada 1948 yang terdaftar untuk mendapat bantuan kemanusiaan
dari PBB. Sedangkan 1,7 juta pengungsi dan keturunannya, juga terusir dari
kampung halaman mereka pada 1948, tidak terdaftar di PBB. Dan masih sekitar 355
ribu warga Palestina dan keturunan mereka yang tinggal di wilayah sekarang yang
menjadi negara Israel.
Ketika Israel mencaplok Tepi Barat dan
Jalur Gaza pada 1967, ada 200 ribu orang Palestina lari dari rumah mereka.
Jumlah mereka dan keturunannya saat ini sekitar 834 ribu orang. Akibat dari
pengahncuran rumah, pencabutan izin tinggal, dan pembangunan permukiman Yahudi
merampas tanah-tanah penduduk asli, paling tidak terdapat 57 ribu warga
Palestina menjadi pengungsi di tanah sendiri.
Bayangkan kalau pengungsi-pengungsi itu
balik ke kampung halaman! Apakah Israel dan masyarakat internasional bersedia
mengumpulkan dana untuk biaya pembangunan kembali permukiman bagi pengungsi
Palestina?
Faktor Eksternal
Sokongan kuat dan berkepanjangan dari
Amerika Serikat terhadap Israel adalah faktor utamanya. Negara adikuasa itu
selama ini membuktikan sebagai pembela sejati Israel.
Dukungan Amerika ini sudah terlihat sejak
negara Zionis itu dibentuk. Amerika menjadi negara pertama mengakui eksistensi
Israel. Pengakuan ini diberikan Presiden Harry Truman hanya sebelas menit
setelah David Ben Gurion, kemudian menjadi perdana menteri pertama Israel,
mendeklarasikan berdirinya negara Bintang Daud pada 14 Mei 1948.
Sejak saat itu boleh dibilang salah satu
tujuan utama kebijakan Amerika di Timur Tengah adalah membela eksistensi
sekaligus mempertahankan wilayah kedaulatan Israel. Saking istimewanya Israel,
Washington DC menetapkan negeri Yahudi ini menjadi sekutu utama non-NaTO (Pakta
Pertahanan Atlantik Utara) bareng Mesir, negara Arab pertama membina hubungan
diplomatik Israel pada 1979, ketika status itu dibentuk pada 1987. Sekarang ini
di Timur Tengah sudah bertambah dengan Yordania, Kuwait, Maroko, dan Tunisia.
Sokongan politik dan militer Amerika ini
membikin Israel makin digdaya di panggung politik internasional dan sebaliknya
mengakibatkan Palestina tidak berdaya. Bukan hanya itu, Israel pun kian arogan
dan terang-terangan membunuh, menyiksa, menangkapi, mempermalukan, serta
merampas tanah dan rumah kepunyaan rakyat Palestina. Israel dengan pongah
melanggar setiap resolusi PBB.
Dukungan Amerika ini tidak saja kian
membuat warga Palestina kehilangan kenangan dan putus asa, tapi negara-negara
Arab dan muslim kehabisan akal. Alhasil, selama Amerika setia di belakang
Israel, peluang Palestina menjadi sebuah negara merdeka dan berdaulat kian
menipis.
Begitulah bahwa dalam melihat penjajahan di
Palestina, kita mesti berparadigma realis, bukan idealis. Bahwa tantangan
terbesar dalam membantu bangsa Palestina meraih kemerdekaan dari penjajahan
Israel adalah bagaimana mencegah agar Palestina bukan sekadar negara khayalan.
Terang sudah, realitasnya hari ini: Palestina belum menjadi negara merdeka dan
berdaulat.
Dan kita, yang berada jauh dari wilayah
konflik, harus terus merawat nyala keberpihakan kepada Palestina. Terutama
nanti, dan saat ini pun sudah kita rasakan, adanya isu-isu pemusnahan global
seperti krisis iklim, pandemi global, dan sebagainya.
Demikian yang bisa saya rangkum dari Faisal
Assegaf, jurnalis sekaligus analis Timur Tengah.

0 Komentar