Transformasi Kesadaran

:: Muhammad Zuhri

Kita membutuhkan empat tahap transformasi kesadaran dengan berteladan pada uswah yang terpuji yaitu Rasulullah SAW. Dua tahap yang pertama bersifat Eksistensial dan dua tahap berikutnya bersifat Esensial.

1. Tahap transformasi yang pertama adalah untuk mencapai kesadaran jagad-raya yang dengannya kita mendapatkan hak berada di tengah alam semesta. Untuk itu kita perlu mengenakan jubah kebesaran yang dikenakan oleh setiap warga alam, yang berupa sifat Ikhlas menjadi dirinya sendiri dengan segala muatan (hak) dan beban (kewajiban) yang telah ditentukan. Jika tidak, kita akan menjadi sengsara hidup di dalamnya. 

Langkah pertama adalah mencari hingga menemukan identitas diri kita yang paling final, yaitu sebagai hamba Allah. Untuk menumbuhkan kesadaran tersebut, kita membutuhkan penghayatan sebagai hamba yang berupa Shalat.

Setelah sifat ikhlas terkondisi di dalam diri, semua persaksian kita tentang kenyataan akan sama dengan persaksian setiap warga alam yang lain, yaitu jujur (Siddiq). 

2. Tahap transformasi yang kedua adalah untuk mencapai kesadaran umat (sosial), supaya kita mendapatkan hak di tengah ummat sebagai warganya. Untuk itu kita perlu melakukan kebaktian sosial (Al-Bir) dengan menunaikan Zakat, infaq, dan shodaqoh. Pengamalannya akan mengangkat nilai keberadaan diri kita di tengah lingkung umat, dan puncaknya adalah tumbuhnya kesadaran bahwa semua milik yang ada hanyalah titipan Allah (Amanah). 

3. Tahap transformasi yang ketiga adalah untuk mendapatkan kemampuan atau potensi ilahi (Qodratullah) dengan Bertaqwa kepadaNya. Untuk itu kita butuh menunaikan ibadah Puasa.

Dengan demikian kita akan mendapatkan potensi-ekstra dari Robbul-'alamin, sebagai supporting-power yang mampu menguakkan terobosan (makhrojan) buat semua stagnasi. Kebahagiaan spiritual yang kita rasakan dari perolehan tersebut membuat kita perlu menyampaikannya kepada pihak lain supaya dapat ikut serta menghayatinya (Tabligh). 

4. Tahap transformasi keempat adalah untuk menundukkan iradah insaniah kita di bawah iradah Allah (Iradatullah) dengan menunaikan apapun yang diperintahkanNya tanpa komentar (Tawakkal). Meskipun di dalam menunaikannya kita harus meninggalkan semua yang kita cintai, seperti keluarga, tanah air, segala fungsi dan peran kita di tengah lingkungan dengan ibadah Haji.

Lenyapnya kehendak insani di dalam Amr (Perintah) Illahi mengantarkan kita pada kenyataan baru di dalam diri kita, sehingga apa yang kita amalkan pasti akan terwujud, karena bukan kita yang melakukannya melainkan Allah-lah pelakunya (Fathonah). 

Kesimpulannya, sifat-sifat Siddiq, Amanah, Tabligh, dan Fathonah tidak hanya wajib bagi Rasul melainkan sifat-sifat yang harus diteladani oleh pengikutnya.

Ringkasan proses transformasi diri lewat Transendensi dan Imanensi sebagai berikut:

Dimensi Eksistensial:

1. Orientasi Perbuatan (Af’al): 

  • Ikhlas - menemukan diri di dalam alam (transendensi) 
  • Siddiq - menemukan alam di dalam diri (imanensi) 

2. Orientasi Nama (Asma): 

  • Al-Bir - menemukan diri di dalam masyarakat (transendensi) 
  • Amanah - menemukan masyarakat di dalam diri (imanensi) 

Dimensi Esensial:

1. Orientasi Sifat: 

  • Taqwa - menemukan diri di dalam qodrat Allah (transendensi) 
  • Tabligh - menemukan qodrat Allah di dalam diri (imanensi) 

2. Orientasi Zat: 

  • Tawakkal - menemukan diri di dalam iradah Allah (transendensi) 
  • Fathonah - menemukan iradah Allah di dalam diri (imanensi) 

Posting Komentar

0 Komentar