Kaum Sabian tampaknya merupakan suatu kelompok keagamaan
monoteistik antara Yahudi dan Nasrani.
Nama mereka (kemungkinan berasal dari verba tsebha’
dalam bahasa Aram, yang berarti “dia membenamkan dirinya [di dalam air])”
mungkin menunjukkan bahwa mereka adalah pengikut Yohanes (Nabi Yahya) Sang
Pembaptis—yang dalam hal ini bisa disamakan dengan kaum Mandae, suatu komunitas
yang dewasa ini masih bisa dijumpai di Irak.
Penelitian-penelitian belakangan memperlihatkan adanya
sedikit peninggalan suatu masyarakat agama yang berjumlah sekitar 2000 orang di
bagian hilir Irak, dekat Basrah. Mereka disebut orang-orang Sabia dan Nasorea,
atau Mandaea, atau Kristen St. John. Mereka mendakwahkan diri golongan Gnostik
atau Yang mengenal Kehidupan Agung. Pakaian mereka serba putih. Mereka percaya
pada pembaptisan yang berulang-ulang ke dalam air. Kitab suci mereka Ginza
dalam logat bahasa Aram. Mereka mempunyai teori tentang gelap dan terang
seperti dalam ajaran Zoroaster. Mereka menamakan setiap sungai itu Yardan
(Yordan).
Namun, mereka ini tidak boleh dikacaukan dengan apa yang
disebut “Sabian dari Harran”, suatu mazhab gnostik yang masih ada pada
abad-abad awal Islam, yang mungkin sengaja menggunakan nama Sabian yang asli
guna memperoleh keuntungan yang diberikan kaum Muslim kepada para pengikut
setiap agama monoteistik.
Sebab, orang-orang Sabi-semu (pseudo-Sabians) di Harran,
yang dalam tahun 830 M, menarik perhatian khalifah Makmun ar-Rasyid karena
mereka berambut panjang dengan pakaian yang khas, sekali lagi barangkali mereka
memakai nama itu seperti yang ada di dalam Al-Quran supaya mereka berhak
menuntut kedudukan sebagai Ahli Kitab. Padahal mereka adalahorang-orang Suria
penyembah bintang dengan kecenderungan Hellenisma seperti orang-orang Yahudi
semasa Nabi Isa.
Ada lagi golongan lain yang disebut orang-orang Sabaea yang
memainkan peranan penting dalam sejarah tanah Arab dahulu kala, yang diketahui
melalui prasasti-prasasti dalam suatu alfabet yang serumpun dengan abjad
Funisia dan Babilonia. Mereka mempunyai sebuah kerajaan yang sudah maju sekali
di Yaman dalam kawasan Arab Selatan kira-kira 800-700 tahun pra-Masehi, yang
mungkin berasal dari Arab Utara.
Mereka menyembah planet-planet dan bintang-bintang (Bulan,
Matahari, dan Venus). Boleh jadi Ratu Saba’ (Syeba) dapat dihubungkan kepada
mereka. Mereka takluk kepada Abisinia pada tahun 350 M. dan kepada Persia tahun
579 M. Kotanya di dekat San’a. Mereka mempunyai bangunan gedung-gedung yang
indah-indah, dengan lengkungan-lengkungan runcing yang jelas sekali.
Kemudian pada pasase “semua yang beriman kepada Allah dan
Hari Akhir, serta berbuat kebajikan akan memperoleh pahala dari Tuhan, mereka tidak
perlu takut, dan tidak pula akan bersedih hati”—yang terulang beberapa kali
dalam Al-Quran—menetapkan suatu doktrin yang fundamental dalam agama Islam. Bahwa
ajaran Islam tidak eksklusif, dan tidak terbatas hanya pada satu golongan
bangsa.
Dengan keluasan pandangan yang tak tertandingi oleh agama
mana pun, di sini gagasan “keselamatan” bergantung hanya pada tiga unsur:
beriman kepada Allah, beriman pada Hari Pengadilan, dan berbuat kebajikan dalam
hidup.
Penegasan doktrin tersebut pada titik ini—yaitu, di tengah-tengah
seruan kepada Bani Israil—sangat tepat untuk menolak keyakinan Yahudi yang
keliru bahwa sebagai keturunan Ibrahim, mereka berhak dianggap sebagai “umat
pilihan Tuhan”.
Demikian! []
Baca juga: Kezaliman Orang Yahudi

0 Komentar