Doktrin Fundamental


SUNGGUH, orang-orang yang telah meraih iman [kepada kitab Ilahi ini], juga orang-orang yang mengikuti iman Yahudi, dan orang-orang Nasrani, serta orang-orang Sabian*—semua yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir serta berbuat kebajikan—akan memperoleh pahala dari Pemelihara mereka; tidak perlu mereka takut, dan tidak pula mereka akan bersedih hati. (Al-Baqarah [2]: 62)

Kaum Sabian tampaknya merupakan suatu kelompok keagamaan monoteistik antara Yahudi dan Nasrani.

Nama mereka (kemungkinan berasal dari verba tsebha’ dalam bahasa Aram, yang berarti “dia membenamkan dirinya [di dalam air])” mungkin menunjukkan bahwa mereka adalah pengikut Yohanes (Nabi Yahya) Sang Pembaptis—yang dalam hal ini bisa disamakan dengan kaum Mandae, suatu komunitas yang dewasa ini masih bisa dijumpai di Irak.

Penelitian-penelitian belakangan memperlihatkan adanya sedikit peninggalan suatu masyarakat agama yang berjumlah sekitar 2000 orang di bagian hilir Irak, dekat Basrah. Mereka disebut orang-orang Sabia dan Nasorea, atau Mandaea, atau Kristen St. John. Mereka mendakwahkan diri golongan Gnostik atau Yang mengenal Kehidupan Agung. Pakaian mereka serba putih. Mereka percaya pada pembaptisan yang berulang-ulang ke dalam air. Kitab suci mereka Ginza dalam logat bahasa Aram. Mereka mempunyai teori tentang gelap dan terang seperti dalam ajaran Zoroaster. Mereka menamakan setiap sungai itu Yardan (Yordan).

Namun, mereka ini tidak boleh dikacaukan dengan apa yang disebut “Sabian dari Harran”, suatu mazhab gnostik yang masih ada pada abad-abad awal Islam, yang mungkin sengaja menggunakan nama Sabian yang asli guna memperoleh keuntungan yang diberikan kaum Muslim kepada para pengikut setiap agama monoteistik.

Sebab, orang-orang Sabi-semu (pseudo-Sabians) di Harran, yang dalam tahun 830 M, menarik perhatian khalifah Makmun ar-Rasyid karena mereka berambut panjang dengan pakaian yang khas, sekali lagi barangkali mereka memakai nama itu seperti yang ada di dalam Al-Quran supaya mereka berhak menuntut kedudukan sebagai Ahli Kitab. Padahal mereka adalahorang-orang Suria penyembah bintang dengan kecenderungan Hellenisma seperti orang-orang Yahudi semasa Nabi Isa.

Ada lagi golongan lain yang disebut orang-orang Sabaea yang memainkan peranan penting dalam sejarah tanah Arab dahulu kala, yang diketahui melalui prasasti-prasasti dalam suatu alfabet yang serumpun dengan abjad Funisia dan Babilonia. Mereka mempunyai sebuah kerajaan yang sudah maju sekali di Yaman dalam kawasan Arab Selatan kira-kira 800-700 tahun pra-Masehi, yang mungkin berasal dari Arab Utara.

Mereka menyembah planet-planet dan bintang-bintang (Bulan, Matahari, dan Venus). Boleh jadi Ratu Saba’ (Syeba) dapat dihubungkan kepada mereka. Mereka takluk kepada Abisinia pada tahun 350 M. dan kepada Persia tahun 579 M. Kotanya di dekat San’a. Mereka mempunyai bangunan gedung-gedung yang indah-indah, dengan lengkungan-lengkungan runcing yang jelas sekali.  

Kemudian pada pasase “semua yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, serta berbuat kebajikan akan memperoleh pahala dari Tuhan, mereka tidak perlu takut, dan tidak pula akan bersedih hati”—yang terulang beberapa kali dalam Al-Quran—menetapkan suatu doktrin yang fundamental dalam agama Islam. Bahwa ajaran Islam tidak eksklusif, dan tidak terbatas hanya pada satu golongan bangsa.   

Dengan keluasan pandangan yang tak tertandingi oleh agama mana pun, di sini gagasan “keselamatan” bergantung hanya pada tiga unsur: beriman kepada Allah, beriman pada Hari Pengadilan, dan berbuat kebajikan dalam hidup.

Penegasan doktrin tersebut pada titik ini—yaitu, di tengah-tengah seruan kepada Bani Israil—sangat tepat untuk menolak keyakinan Yahudi yang keliru bahwa sebagai keturunan Ibrahim, mereka berhak dianggap sebagai “umat pilihan Tuhan”.

Demikian! []

Baca juga: Kezaliman Orang Yahudi

Posting Komentar

0 Komentar