DALAM tradisi tasawuf, ada dua term tentang Tuhan: tanzih dan tasybih.
Tanzih menyatakan bahwa Allah sebagai yang tak bisa dibandingkan dengan segala sesuatu yang ada. Allah benar-benar tidak bisa dijangkau oleh makhluk-makhluk-Nya dan berada jauh di luar pemahaman.
Al-Qur’an mengatakan, “Mahasuci Tuhanmu; Tuhan Yang Mahamulia dari segala yang mereka sifati” (As-Shaffat: 180), atau dalam ungkapan yang lebih sederhana, “Tiada satu pun yang menyerupai Allah” (Asy-Syura: 11). Dalam hal ini, Allah adalah realitas impersonal yang berada jauh di luar jangkauan manusia. Kemudian berkembanglah konsep yang menitikberatkan ketakterbadingan Allah.
Di kutub berseberangan, ada tasybih, bahwa Tuhan haruslah bisa “diserupakan” sejauh tertentu dengan makhluk-Nya. Kita bisa dengan tepat mengetahui dan mengenal diri-Nya dalam sifat-sifat manusia.
“Ke mana pun kamu menghadapkan wajahmu, di situ wajah Allah” (Al-Baqarah: 115) dan “Kami lebih dekat kepada manusia ketimbang urat lehernya sendiri” (Qaf: 16). Dalam hal ini, Allah adalah Tuhan yang personal.
Nah, para pengajar ajaran ketakterbandingan Allah, acap mempertahankan ajaran-ajaran yang lahiriah dan legalistik, bahwa Allah adalah Tuhan yang pemarah dan terus-menerus memberikan peringatan tentang adanya neraka dan siksaan Tuhan. Dia adalah penguasa yang jauh, mendominasi, mahakuasa yang perintah-perintah-Nya harus ditaati dan dipatuhi. Sifat-sifat-Nya bak sifat-sifat seorang ayah yang keras lagi otoriter.
Sebaliknya, otoritas-otoritas yang menaruh perhatian pada dimensi spiritual mengetengahkan sabda Nabi bahwa, “Rahmat Allah mendahului kemurkaan-Nya.” Mereka berpandangan bahwa rahmat, cinta, dan kelembutan adalah realitas Tuhan. Bahwa Tuhan bukanlah terutama seorang ayah yang keras dan suka melarang-larang, melainkan seorang ibu yang hangat dan penuh kasih sayang.
Lebih jauh, kita tilik masing-masing dua perspektif tersebut—ketakterbadingan dan keserupaan—dikaitkan dengan nama-nama atau sifat-sifat dari al-asma’ al-husna. Ketakterbadingan Allah yang menjadi pendekatan eksternal dan legalistik dalam menghampiri ajaran Baginda Muhammad, mengingatkan kita pada nama-nama seperti Mahakuasa, Maha Tak-Terjangkau, Mahabesar, Mahaagung, Maha Pemaksa, Maha Pencipta, Mahatinggi, Maharaja, Maha Pemarah, Maha Penghancur, Maha Pemusnah, Maha Pembalas, dan Maha Penyiksa. Di sini Allah tampil dengan nama keagungan (Jalal), hebat (Qahr), adil (‘Adl), atau pun murka (Ghadhab).
Sebaliknya, keserupaan Allah yang dipegang teguh oleh ahli-ahli hikmah, mengingatkan kita pada nama-nama Mahaindah, Mahadekat, Maha Pengasih, Maha Penyayang, Mahakasih, Mahalembut, Maha Pengampun, Maha Pemaaf, Maha Pemberi Hidup, Maha Pemberi Kekayaan, dan Maha Pemberi.
Di sini Allah tampil sebagai nama-nama keindahan (Jamal), atau kelembutan (Luthf), atau anugerah (Fadhl), maupun rahmat (Rahmah). Dan kesemuanya ini nama-nama yang menekankan kepasrahan kepada kehendak dan keinginan pihak lain, kelembutan, dan penerimaaan.
Kemudian mereka yang menekankan kejauhan dan kekhasan Allah cenderung berkutat di dunia kemajemukan dan perbedaan. Mereka menekankan perbedaan realitas individual, perbedaan antara Pencipta dan makhluk, kekhasan di antara segala sesuatu, dan realitas dari berbagai perbedaan.
Berikutnya, mereka yang menekankan keserupaan, kedekatan, dan kebersamaan (ma’iyyah, “Dia selalu bersamamu di mana saja kamu berada” [Al-Hadid: 4]) Allah, lebih suka berkutat pada kemantapan kesatuan dan antarhubungan. Segala perbedaan bersifat relatif dan bisa dihapuskan. Realitas tidak terletak terutama dalam manifestasi luar dan keterpisahan, tetapi dalam kebatiniahan dan kesamaan.
Namun demikian, baik para pendukung kalam dan jurisprudensi maupun ahli-ahli hikmah ini, di masyarakat bisa hidup berdampingan secara damai, yang masing-masing saling mengontrol satu sama lain.
Perlu juga kita cermati, Al-Qur’an berulang kali menegaskan bahwa segala sesuatu adalah “tanda-tanda” Allah, dalam artian segala sesuatu mengabarkan hakikat dan realitas Allah. Hal ini bisa kita lihat bahwa segala sesuatu di alam semesta sebagai refleksi nama-nama dan sifat-sifat Ilahi.
“Sungguh, bila Allah menghendaki sesuatu, cukuplah Ia berkata, ‘Jadilah!’ Maka sesuatu itu jadi.” (Yasin: 82). Karena itu, setiap makhluk adalah ekspresi unik dari perkataan Ilahi “Jadilah!”.
Walhasil, merujuk dari dua sudut pandang tersebut, dalam hal kejauhan dan ketakterbandingan Allah, manusia dan seluruh makhluk lainnya adalah hamba-hamba-Nya dan harus tunduk pada kehendak-Nya. Akan tetapi, berkenaan dengan keserupaan dan kedekatan-Nya, manusia mempunyai peran lain yang harus dimainkan. Karena mereka diciptakan dalam citra Allah, mereka menemukan dalam diri mereka sendiri semua kualitas Allah dan ciptaan. Karena itu, hanya manusia ini sajalah yang bisa menjadi wakil (khalifah) Allah di muka bumi.
Sehingga, kita ini bagaikan cermin yang memiliki dua sisi. Satu sisi mencerminkan kualitas-kualitas penghambaan sebagaimana termanifestasi dalam segenap ciptaan, dan pada sisi lain mencerminkan kualitas-kualitas ketuhanan seperti yang dimiliki oleh Allah.
Dengan kata lain, manusia adalah tuhan sekaligus hamba. Dimensi lahiriah manusia berkaitan dengan penghambaan, yang sama dengan makrokosmos secara keseluruhan, sementara dimensi batiniah bertalian dengan ketuhanan dan kekhalifahan. Dimensi lahiriah mencerminkan kejauhan dari Allah, karena itu mengingatkan pada ketakterbandingan-Nya. Dimensi batiniah mencerminkan kedekatan dan berkaitan dengan keserupaan Allah.
Demikianlah dua perspektif tentang Tuhan, dan manifestasi kedua sudut pandang itu menumbuh dalam diri manusia. Oleh karenanya, betapa akan jadi kesempurnaan spiritual sekira kita menyadari sifat dan realitas Ilahi yang tersembunyi dalam diri ini. []
Ungaran, 23 November 2025
Baca juga: Sikap Hidup

0 Komentar